Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

My Dear Friend, J.

Udah lama sekali nggak nulis. Keadaan disibukkan dengan kemajuan perkembangan Baby O yang membuat setiap hari saya terasa begitu ajaib. Namun kabar yang saya terima beberapa hari lalu dari teman saya ketika di kampus itu membuat hati saya hancur berkeping2 secara tiba2 dalam sekejap.

Percakapan BBM itu diawali dengan normal..
"Nik"
"Yes, Shel?" Jawab saya
"Lo inget J kan?" Tanya teman saya, Shelly.
"Ingetlah." Bagaimana saya bisa melupakan orang sespecial J. "Kenapa?" Tanya saya lagi. Saya harap dia baik2 saja.

Saya jadi senyum2 sendiri jika mengingat awal perkenalan saya dengan J 8 tahun lalu. Kala itu saya masih kuliah. J merupakan salah satu murid yang menonjol. Dia cukup pintar namun tidak selalu serius, berpenampilan sederhana namun begitu menarik perhatian dengan rambut keriwilnya yang sebahu dan diikat ekor kuda sembarangan. Gayanya selengean, seperti lelaki lain di kampus saya kebanyakan, dan di semester 6 itu pertama kalinya saya sekelas dengan J.
Kerap kali saya berada disatu tempat yang sama dengan J, di kantin kampus, di warnet, di sekertariat, namun kami jarang bicara satu sama lain karena memang tidak dekat. Sering kali di kelas, si lelaki yang populer itu memalingkan mukanya dan tersenyun malu saat tertangkap basah oleh saya karena menatap saya terlalu lama secara diam2. Dan kerap kali, dia hampir akan selalu menyebut nama saya setiap kali ada dosen yang membiarkan murid yang sudah selesai presentasi untuk bisa memilih murid lain untuk mendapat giliran berikutnya. Dia akan menyebut nama saya dengan begitu ringannya, "Unik.", sambil berusaha mengulum senyumnya yang mengembang secara spontan, seperti seakan2 dia sudah menantikan hal ini, seakan2 dia sudah selalu merencanakannya. Dia akan menatap saya lekat sementara saya berdiri di depan kelas membacakan presentasi saya atau pendapat saya mengenai suatu topik tertentu dengan tidak terlalu bersemangat karena belum siap atau karena hal sepele lainnya. Saya pikir dia naksir saya atau apalah.
Lalu pada suatu mula diakhir kelas, seperti dalam adegan2 film dramatis kebanyakan, saya menjatuhkan file holder kuliah saya dan membuat seisinya berhamburan. Dengan cekatan dia mendekati, berjongkok, membantu memungut beberapa kertas catatan kuliah dan dua dari tiga foto saya bersama pacar saya yang memang saya selipkan di file yang ikut terjatuh dan memberikan pada saya tanpa saya minta.
"Well," ujarnya membuka percakapan "kalo ada tugas yang bikin kewalahan, gue siap bantu"
Saya memandang kearahnya dengan muka datar, meski jujur aja sedikit senang. Saya mahasiswi yang memang agak malas, dengan tawaran bantuan seperti itu tentu tidak akan saya lewatkan, tetapi saya memikirkan apa yang harus saya bayar untuk bantuan itu. Jelas, saya udah punya pacar tetap selama 3 tahun terakhir dan tidak ada rencana untuk menggantinya dalam waktu dekat ini, meski ternyata pacar saya itu memang akhirnya sekarang menjadi suami saya, namun seperti yang saya kira, dia bisa membaca pikiran saya "You can give me a chocolate or a box of cigarette for me as a trade" ujarnya
Maka saya bilang "We have a deal" menyalami tangannya dengan satu ayunan dan berharap ini bukan hanya trik semata.
Begitulah mulanya, yang secara alami menciptakan kedekatan saya dengan J, dimulai dari satu tugas ke tugas lainnya membuat keakraban kami semakin kuat. Dia mulai menanyakan hal2 pribadi saya disetiap kali ada kesempatan, tentang siapa pacar saya, sudah berapa lama dan lalala, lalu sesekali dia juga akan bercerita tentang kehidupan cintanya sedikit, karena dia orang yang agak tertutup. Saya tipikal orang yang tidak pernah ingin membuat orang lain tidak nyaman, sehingga saya jarang bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadi orang lain, kecuali tentu saja, jika mereka memang menginginkan untuk bercerita kepada saya terlebih dahulu. Sebaliknya, J justru semakin menyukai cerita2 pribadi saya setiap harinya, hal2 yang saya lakukan sehari2, tentang keluarga saya, namun terutama cerita seputar saya dengan pacar saya, bahkan begitu senang melihat foto2 saya dan pacar saya yang tersimpan di handphone bercamera saya.
Beberapa minggu kemudian ketika dia sedang bercerita tentang pacarnya saya meralat kata2nya sedikit, "Why you always said 'cowok gue, cowok gue'? Do you mean 'cewek gue'?" tanya saya lagi2 polos.
"OMG Unik, seriously that you don't know?"
"What?" Dia cengengesan. "Apaan nggak?" Saya penasaran.
"Hmm, I'm gay! Tapi jangan bilang siapa2 pleaseeee" Oh GOD! Saya bengong. Lanjutnya lagi, "Anyway, the other day, waktu kita nggak sengaja ketemu di mall nah cowok yang gue kenalin itu cowok gue! Cakep nggak?" Ujarnya ceria sambil bersandar dibahu saya.
Dari situlah keakrabannya semakin menjadi. Ketika J mulai terbuka kepada saya, bagaimana dia berkata bahwa dia begitu menyukai cara saya berbicara bahasa inggris, bahwa ternyata selama ini memandangi saya diam2 hanya karena dia ingin punya bibir dan tubuh penuh seperti saya, dan tentu saja secara diam2 mendambakan pacar saya.

Kembali kepercakapan saya dengan Shelly di BBM, Shelly membutuhkan waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan saya, maka tadinya saya mau lempar pertanyaan iseng 'Kenapa? Nikah dia?' Dan berharap seringan itu topiknya.
Well, meski kami tau jelas bahwa J is a gay, namun tidak sedikit teman gay saya yang akhirnya menikah.
Maka dengan harapan simple saya itu, Shelly akan menyampaikan entah undangan yang tidak sempat dikirim atau satu dari beribu alasan sederhana lainnya yang bisa menjadi alasan pertemuan kami kembali.
Namun kebisuan Shelly membuat saya yang penasaran memojokkannya dengan pertanyaan lain lagi, "Shel? Is he okay?"
Namun jawaban dalam dua kata itu sontak mengejutkan saya : "Dia meninggal"
Bagaimana mungkin? Tentu saja pertanyaan lainnya adalah are you sure? Kapan? Kenapa? Dimana? Blablablabla.

Dada saya sesak, airmata saya tumpah, tiba2 saya lupa caranya bernapas. Tiba2 saja saya merasa sulit untuk berpikir, namun tentu saja saya harus tetap fokus dan mencerna berita mengejutkan ini dengan hati2.

Saya masih teringat kekonyolan2nya hingga sekarang, saat saya perkenalan pertama kali dengan pacar saya yang begitu membuat dia salah tingkah dan pergi berhambur ke toilet untuk 5 menit sebelumnya untuk memasang bedak tipis dan lipstik kemerahan yang membuat dia lebih percaya diri. Dia yang selalu membiarkan saya memilih dimana kami akan makan disetiap jeda pergantian kelas setiap harinya, dan hanya mentertawakan saya saat saya memesan 3 porsi makan berat dalam sekali waktu makan tanpa pernah menghakimi. Yang pernah menemani saya berbelanja kado pernikahan untuk salah satu teman saya dan bersedia menggotong tanpa saya minta satu set perlengkapan makan seberat lebih dari 8 kilo dengan senang hati dalam perjalanan pulang. Yang selalu menawarkan saya pulang bersama dengan membonceng motornya dan membawa helm cadangan meski saya selalu menolak dengan halus.

Ada satu teman saya yang lain yang J kenalkan kepada saya, namanya Pauline. Pauline atau Paulina Winata yang merupakan mantan artis cilik di group vocal anak2 4 MC Cilik yang populer ditahun 90an bersama Erina GD, Chintya, dan Diva Nadia, dengan lagunya Paman Dolit-Jangan Bolos Sekolah.
Pauline merupakan salah satu sahabat baik J sejak SMA. Pauline lah salah satu orang yang membuat saya mencoba dunia akting. Kala itu, saya dan dua teman cewek saya lainnya diajak serta untuk coba ikut casting bersama Pauline. Hanya peran kecil yang muncul tidak lebih dari 5 menit dengan dialog 4 kalimat yang tidak begitu sulit disuatu sinetron remaja sekali tayang. Ternyata saya lolos, itu salah satu moment merasakan uang hasil keringat sendiri bagi saya meski honornya tidak seberapa meski melewatkan satu hari penuh yang melelahkan untuk syuting.
3 tahun lalu J lah yang memberitahu saya bahwa Pauline meninggal karena sakit, betapa kami berdua begitu bersedih dan berhari2 membicarakan kenangan kami bersama Pauline, yang telah pergi diusia begitu muda, 24 tahun.
Sekarang, saya tersentak lagi, J menutup usianya yang baru menginjak 27 tahun akibat tumor leher ganas yang entah sejak kapan dideritanya.

Ketika mulai bekerja di tahun 2007, saya dan J mulai tidak pernah bertemu satu sama lain karena kesibukan, namun tentu saat akhirnya bertemu kembali di social media seperti YM/BBM, facebook ataupun twitter, kami akan bertukar cerita, dan berjanji, saat kami berdua memiliki waktu senggang satu sama lain, kami akan saling mengabarkan untuk sekedar dinner and wine. Maka saya segera beli sebotol untuk menyambut pertemuan istimewa, yang sayangnya tak pernah terwujud itu.

Ada masa2 tertentu ketika seseorang menjadi begitu merasa lebih religius dan mengenal Tuhannya dengan lebih jauh. Bagi saya pribadi, itu adalah masa dimana ketika saya akhirnya hamil di tahun 2011 lalu, setelah 3 tahun menikah. Ditahun yang sama itu juga J yang saya kenal begitu periang dan ceria sedikit berubah. J menjadi lebih religius disaat yang sama dengan saya. Saya ikut senang tentu saja, dan tidak pernah menanyakan alasannya. Namun pembicaraan yang dulunya sering kali kami lewati seputar film dan buku yang tidak boleh dilewatkan, atau hottest fashion terbaru berubah menjadi topik seputar keagamaan. Topik sederhana seperti apa bedanya sunnah dan wajib, atau membahas pendapat berbeda seputar syarat sah sholat dan sebagainya. J pun mulai kerap mengirimkan hadist2 nabi dan doa2 baik lainnya untuk saya dan calon bayi saya. J pula lah yang saya jadikan orang pertama yang saya datangi ketika saat saya ragu untuk menaruh nama Muhammad di tengah, bukan diawalan nama anak saya, dan menjelaskan jawaban bahwa itu tak perlu dikhawatirkan selama tujuan saya menamai anak laki laki pertama saya itu dengan tujuan baik.
Unsur religius yang dia lakukan di social media menarik beberapa selebritis dan ustad2 terkenal hingga followers twitternya mencapai lebih dari lima puluh ribu orang.
Yang saya lihat, dia telah begitu banyak berubah dalam arti yang sangat baik beberapa tahun terakhir. Duniawi bukan lagi hal utama baginya, dia menebar kebaikan dengan tulus, mengetuk hati orang2 tanpa memojokkan, tanpa menghakimi, tanpa pamrih.

Kalimat Shelly berikutnya makin membuat saya menangis, ketika J kerap kali mengajak teman2 lainnya untuk mencari waktu agar bisa setidaknya berkunjung ke rumah saya dan saling bertemu. Saya teringat sebotol white wine yang masih tersimpan rapi di cabinet saya hingga sekarang yang telah saya beli sejak dulu ketika saya dan J merencanakan bertemu.

Kenapa begitu cepat? Kenapa begitu mendadak? Kenapa orang2 yang begitu dicintai begitu cepat pergi? Sesungguhnya Tuhan Maha Tahu. Saya tentu merindukannya. Saya begitu merasa kehilangan. Saya begitu menyesalkan bahwa saya tidak pernah berusaha lebih keras untuk membuat pertemuan kami terwujud.

Saya memeluk botol wine itu, membukanya hati2, menyesapnya perlahan. Membayangkan J berada disini bersama saya, tersenyum, menggenggam tangan saya.
Dia akan tahu bahwa kehadirannya akan selalu kami rindukan.

May your soul rest in peace, J.
-29 June 2012-

Kamis, 31 Januari 2013

Dala

Hati saya lagi2 seakan runtuh.
Beberapa jam lalu, kawan SMP saya, memasang foto seorang bayi yang terlihat sedikit membiru. Saya bertanya dengan iba, foto bayi siapa itu? Teman saya itu menjelaskan bahwa itu putri temannya, yang baru saja meninggal, karena divonis leukemia sejak usianya 3 bulan.
Beberapa waktu kemudian ketika saya menonton tv, tersiarlah beritanya. Ternyata bayi perempuan cantik itu adalah putri seorang drummer dari sebuah band indonesia.
Namanya Dala, yang saya tahu arti nama Dala adalah "daun bunga". Usianya baru 1 tahun 3 bulan saat pergi. Dari yang saya dengar, Dala menjalani berbagai terapi dan kemoterapi setahun terakhir, hingga keluar negeri. Saya kembali ingat foto itu, riak wajahnya terlihat tenang, dipipinya yang bulat penuh sempurna masih ada semburat warna kemerahan, begitu pula bibir mungilnya yang menyunggingkan senyum sepintas. Rambutnya hitam dan penuh. Alisnya gelap, membentuk satu garis lurus dan membengkok dimasing2 ujung luar dengan begitu anggun. Dia mengenakan baju terusan berwarna pastel, kedua tangannya menjadi satu, diikat dengan seutas kain putih, jemari lentiknya yang mulai terlihat kebiruan mengait satu sama lain. Sementara hidungnya tersumbat kapas kecil berwarna putih. Ibunya yang mengenakan kerudung mencium dahinya dengan tenang, terlihat begitu ikhlas dan tabah, terlihat mengerti bahwa ini memang sudah saatnya, dan yakin bahwa kini Dala lebih berbahagia dialam sana.

Innalillahi wa innalillahi rojiun. Tidak pernah ada yang bisa mengetahui rencana Allah SWT, namun saya yakin ini adalah rencana yang terbaik untuk Dala dan keluarganya.
Satu malaikat kecil lagi pergi ke surga. Ketika sadar, malam ini, saya lihat langit begitu cerah, tidak seperti biasanya. Seakan langit turut menyambut kembalinya Dala kepangkuan Dia Yang Maha Besar.
Saya turut berduka cita, yang sedalam2nya.

Semoga anakku Baby O, senantiasa sehat, dan kelak berumur panjang. Amin.

Jumat, 23 November 2012

Kepada Irwan, Sang Kawan :)

Hujan. Langit bergemuruh. Begitu dingin, perih dan mencekam. Seakan langit turut berduka, atas kepergian sahabat terbaik kami, Irwan :(
Such a sad sad sad news :(
Kenapa orang baik selalu dipanggil Tuhan lebih cepet ya? :(
Mungkin karena Tuhan lebih sayang sama dia.

Irwan ini sebenernya sahabat suami saya semasa kerja di Soekarno-Hatta. Tapi juga akhirnya begitu sering terlibat dalam kehidupan sehari2 saya. Orangnya begitu sopan, baik dan menyenangkan. Pembawaannya tenang, rendah hati, dan begitu penolong. Kehadirannya selalu hangat, dan berlaku seperti kakak, begitu melindungi.
Kalo ngomongin kebaikan Irwan, tujuh hari tujuh malem nggak kelar2.
Sayang sekali, usianya baru menginjak 33 tahun, dan usia pernikahannya baru satu tahun, Irwan sudah pergi meninggalkan kita semua.

Lucunya, si Irwan ini menikah dengan kakak dari salah satu teman baik saya di kampus. Hal itu baru kami ketahui setahun yang lalu, setelah entah berapa ratus cerita dari Irwan kepada saya mengenai pacarnya tersebut.
What a small world.

Umur memang ditangan Tuhan, jodoh juga rahasiaNya, takdir merupakan rencanaNya. Apa yang Tuhan tuliskan pada kehidupan sahabat baik kami, Irwan, insya allah memang itu yang terbaik.

Semoga Kak Icha, istri yang ditinggalkan diberikan kesabaran yang tak terhingga. Keluarga Irwan juga diberikan ketabahan dan keikhlasan hati, amin.

Saya percaya, Tuhan akan menempatkan orang2 yang baik seperti Irwan berada di sisi terdekatNya.
May his soul rest in peace.
He will never be forgotten.


Selamat jalan, kawan :)

Sabtu, 10 November 2012

Selamat Hari Pahlawan, Para Pahlawanku :)

Selamat Hari Pahlawan!

Semua orang punya pahlawan versinya sendiri dalam hidup ♥

Seperti halnya pada orang2 kebanyakan, buat saya, sosok IBU adalah pahlawan nomer satu di hati saya.
Ibu saya adalah orang yang menerima saya apa adanya. Mendampingi saya disaat apapun, baik saat bahagia, maupun disaat2 yang buruk. Percaya deh, saya pernah mengalami masa 'terpuruk' saya sendiri. Dimana ketika hidup saya terasa terenggut oleh apa yang pernah lewati, dan ibu sayalah yang tetap setia menemani.
Kalau diuraikan, bisa berhari2 nggak kelar deh :(
Saya berterima kasih kepada ibu saya, karena telah membesarkan saya dengan penuh kasih, dan menjadikan saya menjadi sosok yang begitu kuat, serta mendampingi masa suram dan kelam yang saya lalui, sejak kecil, remaja, hingga sekarang 27tahun ini.

Mami, saya (ungu) dan kakak perempuan saya, Munich, 2006.

Yang paling berasa waktu saya mengalami Baby Blues Syndrome pasca melahirkan Baby O. Dua minggu nafsu makan hilang, berat turun 6kilo dari berat normal. Tidurpun nggak bisa. Orang2 abis lahiran sibuk nurunin berat badan dan menekan nafsu makan, saya malah sebaliknya.
Sementara ada bayi yang harus saya asuh, Baby Blues Syndrome membuat hal yang seharusnya menjadi naluri alami seorang ibu dalam hal mencintai anaknya membuat saya begitu sulit menerima kehadiran Baby O :(
Kaget? Saya aja nggak percaya ngalamin itu. Detail Baby Blues Syndrome saya akan posting di blog selanjutnya.

Tentu sangat wajar apabila seorang ibu, dalam hal ini, ibu saya sendiri begitu mencintai saya apa adanya. Namun, setelah menikah 2008 lalu, ibu saya bertambah satu, yaitu : IBU MERTUA.
Bagi saya Ibu Mertua saya juga Pahlawan tersendiri bagi saya.
Saya yang sejak menikah tinggal bersama beliau, diperlakukan layaknya anak sendiri olehnya.
Saya sangat berterima kasih atas pengertian beliau dalam hal menyerahkan sepenuhnya kendali atas pengasuhan Baby O kepada saya.
Seringkali, pola asuh anak terkadang pula dihiasi "pendapat dan campur tangan dari orang tua ataupun mertua" yang kadang tak sejalan dengan pendapat ibu bayi itu sendiri. Untungnya, dalam hidup saya, pertikaian menantu vs mertua tidak saya alami. Ibu mertua saya ini sangat terbuka dan menerima pola asuh yang saya terapkan pada Baby O.
Setelah 3tahun menunggu keajaiban Tuhan berupa kehamilan, ketika dinyatakan positif, saya mulai banyak membaca buku2 dan browsing di internet untuk ilmu dalam mengasuh anak yang terbaik. Bersyukur sekali sekarang banyak informasi dimana2 yang memudahkan pada ibu muda dan ibu2 baru seperti saya, sehingga saya insya allah bisa menerapkan pola asuh terbaik pada anak anak saya kelak.

Umi Zahra, ibu mertua tercinta :) Lebaran, 2012.


Alhamdulillah, saya memiliki beliau, yang selalu mendukung apapun keputusan yang saya ambil setiap harinya. Ketika saya memutuskan berhenti bekerja saat mendekati waktu melahirkan agar bisa fokus mengurus anak, atau ketika saya memutuskan tidak membedong Baby O, tidak memakaikan gurita, tidak memberi bedak dan minyak telon serta hair lotion yang umumnya selalu dipakai bayi setelah habis mandi, mulai memberikan makan setelah Baby O berusia 6bulan, tidak menyuapi Baby O sembari berjalan2 diluar rumah seperti ibu2 kebanyakan, tidak memberi gula garam pada makanan Baby O hingga usia setahun nanti, tidak memberi makanan instant dan kemasan, tidak membelikan baby walker, berpindah dari satu dokter anak ke dokter anak lain dalam tujuan mencari yang terbaik, dan banyak lagi.

Meskipun setiap kalinya beliau akan selalu bertanya "Kenapa?" dan ketika saya menjelaskan alasannya beliau akan mengerti dan justru memuji saya karena begitu pintar.
Sebenernya bukan pintar, hanya saja pola asuh anak sekarang sudah banyak perbedaan dan jauh lebih berkembang dibanding pola asuh yang dianutnya ketika membesarkan anak2nya berpuluh2 tahun yang lalu.

Pahlawan saya yang lain tentu juga ayah saya, karena ilmu agamanya yang begitu luas, dan tidak adanya paksaan bagi saya dan anak2nya yang lain untuk lantas menjalankan semuanya, beliau cukup menerangi, memberi tahu, menjelaskan, dan yakin setra percaya bahwa suatu saat saya dan anak2nya akan menjalankan segala apa yang dia tanamkan pada saya suatu hari nanti. Terima kasih pula telah menafkahi kami, ketujuh anaknya hingga kesemuanya mengenyam pendidikan hingga keperguruan tinggi, dan menjadikan kami orang2 yang selalu istimewa dimatanya.

Saya dan Papi :) Pelabuhan Ratu, 2009


Pahlawan saya lainnya tentu saya si Hubby, suami saya :)
Kadang suka mereka2 apa kira2 yang terjadi kalau saya nggak ketemu dia delapan tahun lalu? Akankah saya masih single, belum menikah, masih bekerja dan masih sibuk dengan dunia muda yang sejak dulu saya geluti? Hang out, pulang malem, clubbing, party2, hahahihi, liburan kesana kemari sama temen2, punya banyak pacar, sibuk flirting, dan hura2.
Bukan berarti sekarang hidup saya udah nggak happy lagi. Saya masih tetap hang out, masih tetap pulang malem, clubbing, party2, flirting, hura2, liburan kesana kemari, tapi bedanya bukan sama the random people, tapi justru sama si Hubby :) Lalu? Rasanya beda? Jelas. Bedanya, kalo sama random people kan kita kadang ada kejutan2, baik menarik, atau sebaliknya. Kalau sama si Hubby justru rasanya sama! Hambar? Bukan dong. Luar biasa happynya. Rasanya selalu aja ada kejutan baru yang begitu menyenangkan hati.
Saya dulu mudah sekali bosan pada teman, pada pasangan, sehingga membuat saya begitu senang mencari teman baru. Yang saya rasa setelah mengenal si Hubby, justru aneh, kok ya saya malah nggak pernah bosen? Selalu ada aja kejutannya, selalu ada rasa baru dalam setiap kesenangan yang kita lalu bersama.
Terima kasih telah menemukan saya, terima kasih telah mendekati saya. Terima kasih untuk selalu sabar menghadapi emosi dan mood saya, untuk selalu berjuang agar saya kembali disaat saya berkali2 pergi berlalu saat berpikir hubungan ini tidak akan berhasil, untuk meyakinkan saya bahwa menikah dengan kamu adalah keputusan yang tepat, untuk memberikan berjuta2 alasan bahwa kamu adalah lelaki belahan jiwa saya, untuk menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat saya, untuk meneguhkan hati saya bahwa kamu cukup untuk saya.

Hubby, terima kasih telah mencintai saya seolah saya begitu sempurna :) Kota, 2009.


Pahlawan terakhir saya ini masih kecil, usianya belum tepat 9bulan, namanya Balski Oufar Muhammad Smith, biasa dipanggil Baby O :)
Karena kamu, hidup saya kini lebih berarti. Karena kamu, saya berharap memiliki hidup yang jauh lebih panjang&sehat dari yang orang2 lain harapkan. Karena kamulah, saya kuat.

My baby boy 8m2w

"Berharap suatu hari nanti, saya punya alasan untuk kamu jadikan seorang pahlawan didalam kehidupan kamu, Baby O ku :')"



Well, selamat hari Pahlawan wahai Ibu, Ibu Mertua, Ayah, Suami, dan Anakku.
Serta kelima kakak dan satu adikku.

Saya memeluk Mami (kanan), bersama Papi (kedua dari kiri) dan 6 orang pahlawan hidup saya yang lainnya. Bali, 2010.

Karena kalian, kini saya tahu makna hidup lebih dari bernafas, makan, tidur, dan bersenang2 :)
Berharap kalian semua selalu sehat, berumur panjang, dan selalu dilindungi oleh Tuhan ♥

Lalu, siapa pahlawan kamu?

Rabu, 07 November 2012

Doa Pengantar Tidur

Jaman kecil dulu, setiap mau tidur pasti selalu baca doa. Semua orang juga gitu kan ya? Buat saya bukan hanya Doa Sebelum Tidur, tetapi juga ditambah dengan Doa Untuk Kedua Orang Tua (untuk menunjukan bahwa saya selalu bersyukur memiliki mereka disetiap harinya) dan Doa Keselamatan Dunia Akhirat (kali2 tiba2 ajal saya menjemput)


Sekarang, setiap malam, sebelum tidur, si Hubby yang berbaring di sebelah saya dikegelapan akan berbisik kepada saya dengan lembut "Jangan lupa ngaji, Sayang" lalu mencium kening atau rambut saya sambil terpejam, lalu tidur.

Mau tidur kok disuruh ngaji? Kapan tidurnya?

Awalnya sih.. Dulu, waktu pertama kali tidur sama si Hubby, dia akan berkata :
"Met bobo ya, Cantik. Baca doa dulu, Sayang" lalu kami akan berdoa bersama di dalam hati masing, dan dia berkata "Amiiiiin. Bobo ya, Sayang" pertanda bahwa dia menyudahi doa sebelum tidurnya, sementara saya nggak nyaut karena masih berdoa, lalu dia akan menunggu dan berkata lagi "Amiiin. Udah belom?" Tapi saya akan masih komat kamit dan tetep nggak mau bilang kalo saya belom selesai karena doanya nggak mau putus, sampe dia nunggu lebih entah berapa lama lagi dengan tetap sabar.
Hingga mendengar saya lantang berkata "Amin Ya Robbal Alamiiin"
Lalu dia akan keki bilang "BUSET? BACA APAAN AJA SIH LU? BERDOA APA NGAJI??!"
Laaah, knapa jadi sewot, Bang Ganteng?
Saya dengan tenangnya bilang "Besok2 aja aku ceritain, ceritanya panjaaaaang. sekarang bobo aja ya, udah malem" lalu kami pun tidur ngorok.
Dia percaya banget kalo saya bilang ceritanya panjang, berarti beneran PAN-JANG! Karena saya kalo cerita kudu detail. Detail banget, pake sekali!

Penasaran? Nih saya ceritain, seperti halnya saya cerita ke si Hubby. Simak ya. Jangan ngantuuuuk *nyinyir* (˘̯˘")


Jadi gini. Dulu, saya dan kelima kakak (betul, lima. Nggak salah baca kok) serta satu adik saya, adalah anak2 yang ditinggal kerja jauh oleh ayah kami. Beliau kerja di Sydney sejak tahun 1988, sendirian. Sementara saya&6 saudara sekandung lainnya bersekolah&tinggal di Bekasi, Indonesia. Jadi sehari2nya kami hanya sama ibu kami aja :(

Jarak dan waktu kadang membuat rindu kami kepada ayah kami begitu menumpuk, hingga terlalu perih untuk diuraikan di atas kertas pada tiap lembar surat mingguan yang rutin di kirim dari dan untuk ayah kami tercinta. Juga terlalu sulit untuk diucapkan melalui kabel telepon yang rutin dilakukan setiap malamnya :(
Kami tetap menjalani hari2 kami seperti biasanya, tanpa terlihat adanya sedikitpun kejanggalan, meski selalu terselip doa kesehatan dan keselamatan dihati kami untuk sosok lelaki yang begitu sempurna di mata kami tersebut, disetiap waktunya.

Seringnya ibu yang mengunjungi ayah kami rutin disetiap tahunnya hingga kepulangan ayah kami ke tanah air di tahun 2008 lalu.
Namun, setelah kunjungan 3bulan singkat saya ke Sydney pada tahun 1995, beberapa waktu berikutnya, saya terbangun dari tidur dalam keadaan menangis, mata saya begitu sembab, sulit bernafas, dan hati begitu hancur. Ibu kala itu sedang dalam kunjungan rutin tahunannya ke Sydney, jadi pada intinya tidak ada orang tua di rumah, hanya 7 anak yang berusaha saling menjaga satu sama lain, diawasi dengan satu asisten rumah tangga yang tidak full 24jam bekerja di rumah kami.
Yang saya ingat, saya mengalami mimpi yang sangat buruk sekali, maka saya bergegas ke rumah tetangga belakang rumah, yang suka menjadi pelarian saya kala kesepian, namanya Bu Bambang, saya biasa panggil Mamah, karena dia memperlakukan saya seperti anaknya sendiri.

Maka saya ceritakan mimpi buruk saya kepada Mamah.
Mimpi itu begitu nyata, begitu jelas, dan menyakitkan. Saya mimpi ayah saya meninggal di negeri kanguru tersebut, kami hanya dikabarkan melalu telepon oleh teman2 Indonesianya yang berada disana, yang menjelaskan bahwa mayatnya sudah langsung di kubur. Dan sebaiknya kami nggak usah repot ke Sydney hanya untuk buang2 waktu melihat tanah rata kering yang datar dimana ayah kami entah berada seberapa jauhnya dibawah sana untuk berbaring selama2nya disana.
Astagfirullah :( Senaif itukah kami? Hingga sampai tubuh dingin kaku tak bernyawa dari sesosok figur ayah yang begitu kami idolakan sepanjang hidup kami menjadi begitu mustahil untuk dilihat? Bahkan untuk terakhir kalinya?
Bukan hanya perih, namun juga pilu.

"Namanya mimpi itu bunga tidur, Tiwuk" Tiwuk adalah panggilan suku Jawa untuk anak perempuan kesayangan. Mamah berkata kepada saya sambil mengusap rambut saya lembut. "Itu insya Allah pertanda, kalau Bapakmu itu akan berumur panjang" lanjutnya lagi.
Saya mendongak memandang riak wajahnya yang begitu menenangkan, meresap tiap kata2 yang keluar dari mulutnya yang terukir dengan senyumannya yang selalu begitu manis. Berharap bahwa apa yang Mamah bilang benar adanya. Hati saya teriak begitu lantang "AMIIIN" namun sepertinya terlalu sukar untuk diucapkan.
"Setan itu sukanya ganggu manusia. Besok2 kalau mau tidur, coba baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Ayat Kursi, biar tidurmu tenang, Sayang" ujarnya penuh kasih.

Sejak saat itu, disaat saya berusia 11tahun, sebelum tidur selalu membaca :
Doa Sebelum Tidur
Doa Untuk Kedua Orang Tua
Doa Keselamatan Dunia Akhirat
Ditambah dengan :
Al-Fatihah
Al-Ikhlas
Ayat Kursi

Nah, cerita lainnya, beranjak SMP, saya punya hobby yang sangat akut, yaitu : baca buku.
Bagi sebagian orang, baca buku mungkin jadi pengatar ngantuk, makanya selalu baca buku sebelum tidur. Suami saya, baru baca satu halaman, biasanya matanya langsung berat, lalu tertidur dengan posisi buku yang terjatuh diatas wajahnya *dan tetep tidur*. Iih, enak banget! *keplak*

Kalo saya lain.

Buku yang ceritanya nggak bagus, bikin saya jadi nggak ngantuk. Biasanya karena kesel sendiri 'Kok ya ada, penulis bikin buku nggak mutu? Dan bodohnya lagi, ada aja penerbit yang mau nerbitin buku macam gini!? Dan lebih bego lagi gue, buku jelek gue belii' Maka saya yang gondok, jadi makin melotot dan napsu baca, berharap ada satu fase dimana cerita membosankan pada buku jelek tersebut untuk membuat saya yakin bahwa rupanya pendapat awal saya salah, bahwa rupanya memang ada suatu keunikan dari pikiran si penulis ini.

Nah, lain lagi ceritanya kalo buku bagus. Bikin ngantuk? Enggak juga -_- Malah melek juga.
Karena cerita yang bagus, bikin saya 'nggak bisa berhenti baca' karena buat saya, terlalu lama untuk menunggu mata&tubuh saya beristirahat 7 atau 9 jam kedepan seperti layaknya yang manusia2 normal lainnya lakukan, lalu melanjutkan cerita bagus dibuku tersebut. Jadi kalo ngantuk dateng, saya kejap2in mata, biar ngantuknya ilang. Kadang baca bukunya sambil nyureng2 saking ngantuknya! Like, I'm gonna eat the whole book, right now!

Jadi, pada intinya, buku malah bikin saya makin sering begadang, tidur larut malam *atau seringnya menjelang pagi*, atau nggak tidur karena keesokan harinya harus sekolah/kuliah/kerja yang tetep akan diisi dengan 'nyolong2' baca buku tersebut! Walaah, bukan cuma repot, tapi masa depan saya terancam suram! Ya iya dong, kalo guru nerangin saya malah baca novel/buku lainnya? Atau lagi kerja ketauan malah baca buku sama atasan? Berabe kan?

Maka sejak SMP itu saya mulai jadi manusia kalong, yang jarang tidur. Seringnya ketidurannya ya sore, abis sekolah/kuliah/kerja gitu. Jadi pas kebangun tengah malem, makan, mandi, lalu jam baca buku pun seger :p
Nah tapi, karena jadi mengganggu konsentrasi belajar/bekerja, maka saya sering mengkontrol minat baca saya hingga halaman tertentu, misal :
'Pokoknya bab ini abis, tidur! Janji!'
Atau
'Pokoknya halaman 100, tidur! Janji!'

Tau sendiri doooong kalo ceritanya lagi seru malah 'kentang' dan kelojotan nggak bisa tidur karena otak malah mikirin dan menduga2 gimana kira2 kelanjutan cerita buku bagus tersebut, apalagi kalo bukunya semacam Harry Potter, Twillight Saga atau novel psikologis karya Torey Hayden favorit saya :) *tentang Torey Hayden akan saya posting di blog selanjutnya ya*
Maka saya mulai berusaha mengendalikan kehidupan saya yang hampir 'direnggut' oleh buku2 tersebut dengan mengalihkannya pada tambahan doa menjelang tidur.

Maka, ritual doa saya yang sebelumnya hanya baca :
Doa Sebelum Tidur
Doa Untuk Kedua Orang Tua
Doa Keselamatan Dunia Akhirat
Al-Fatihah
Al-Ikhlas
Ayat Kursi
Bertambah lagi menjadi :
Dzikir! Yaitu :
Alhamdulillah 33x
Subhannallah 33x
Astagfirullah haladzim 33x
Dan, Allahu Akbar sedikitnya 33x atau sebanyak2nya hingga saya tertidur.

Mau tidur aja rempong yeeee?
Bangetttttt!

Nah, cerita lainnya lagi, saat masuk usia pernikahan *eh buset, masih kurang? IYEEEE!*
Jadi, sejak pake BB, kira2 tahun 2009, saya sering dapet BM begini :
-------
"Menurut Rasulullah, sebaik2nya orang tidur adalah orang2 yang :
1. Mengkhatamkan Al-Quran. Bagaimana caranya? Tentu sulit mengkhatamkan Al-Quran dalam satu malam? Mudah saja, bacalah surat Al-Ikhlas tiga kali, niscaya sama manfaatnya dengan mengkhatamkan Al-Quran.
"Qulhualloohu ahad' Alloohushshomad' lam yalid walam yuulad' walam yakul lahuu kufuwan ahad (3x)"
2. Membacalah sholawat untuk Ku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.  "Alloohumma shollii 'alaa  Muhammad wa'alaa aalii  Muhammad (3x)"
3. Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu.
"Astaghfirulloohal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x)"
4. perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan - akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh.
"Subhanalloohi Walhamdulillaahi walaailaaha illalloohu alloohu akbar (3x)"
----
Nah, makaa, dan makaaaaa, doa penghantar tidur saya pun bertambah lagi, dari :
Doa Sebelum Tidur
Doa Untuk Kedua Orang Tua
Doa Keselamatan Dunia Akhirat
Al-Fatihah
Al-Ikhlas
Ayat Kursi
Alhamdulillah 33x
Subhannallah 33x
Astagfirullah haladzim 33x
Dan, Allahu Akbar sedikitnya 33x atau sebanyak2nya hingga saya tertidur.

Berubah menjadi :
Doa Sebelum Tidur
Doa Untuk Kedua Orang Tua
Doa Keselamatan Dunia Akhirat
Al-Fatihah
Al-Ikhlas (3x)
Ayat Kursi
Alloohumma shollii 'alaa  Muhammad wa'alaa aalii  Muhammad (3x)
Astaghfirulloohal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x)
Subhanalloohi Walhamdulillaahi walaailaaha illalloohu alloohu akbar (3x)
Alhamdulillah 33x
Subhannallah 33x
Astagfirullah haladzim 33x
Dan, Allahu Akbar sedikitnya 33x atau sebanyak2nya hingga saya tertidur.

Alhamdulillah, mimpi terburuk saya itu nggak pernah datang lagi, hingga sekarang setelah hampir 15tahun lewat :)Insomnia pun menghilang.
Hati, batin dan jiwa pun jadi tenang.
Dan no more nightmare!
*biasanya kalo abis kebangun mimpi buruk, saya pasti punya sugesti : wah, semalem lupa ngaji sebelum tidur nih kayanya x))*
Well, at least it works for me!
Mau coba? Total waktu baca nggak sampe 3 menit kok. Selamat bergabung di tim Ngaji Sebelum Tidur :p

Nah, gimana? Ceritanya beneran panjang kan????? :D:D:D

Selasa, 18 September 2012

Duka

Baru saja membaca status ввм temen SMP saya Desty yang tertulis : "Buat Tiyas turut berduka atas meninggalnya putri pertamamu. Semoga Marisa diterima di sisi Allah SWT O:) Buat ayah bundanya yg sabar ya O:)"
Sebenernya sih nggak kenal juga sama yg namanya Tiyas. Yang pasti, Tiyas itu temennya si Desty, yang merupakan teman SMP saya. Yang terbesit dibenak saya setelah lihat statusnya : "Duh, meninggal kenapa? Ada gejala apa sebelumnya? Lalu tindakan yang dilakukan apa? Kapan? Anaknya umur berapa? Lalu orangtuanya bagaimana?" Tapi mau nanya nggak berani, hati udah keburu miris dan air matapun sudah menggenang dikelopak mata saya.
Innalillahi wa innalillahi rojiuun :( Yang namanya anak, biarpun terlahir jelek, atau bodoh, atau nggak sempurna, tetap aja permata hati bagi orang tuanya. Sumber kebahagiaan. Pelita hidup. Pelipur lara. Belahan jiwa! Kalo kata ibu saya, biar kata punya anak dua ratus biji, kalau satu meninggal pasti rasanya sama : hancur berkeping2!!
Ya Allah, saya yakin, putri kecilnya Tiyas yang bernamanya Marisa itu tentu begitu disayang oleh Mu, karna begitu cepatnya Kau panggil kembali. Insya Allah, surgaMu menantinya ya Tuhanku. Semoga orang tuanya diberikan ketabahan, kesabaran, dan kelapangan dada, serta keikhlasan hati seluas samudera. Tempatkanlah malaikat kecil bernama Marisa itu ditempat yang paling indah, lebih indah dari apa yang bisa kami bayangkan, wahai Tuhanku Yang Maha Baik. Amin.

Memang yang namanya umur nggak ada yang tahu, takdir merupakan tulisan hidup yang sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta, kematian bisa datang kapan saja.
Alhamdulillah orang tua saya, meskipun usianya sudah menginjak usia 60tahun, mereka masih sehat walafiat. Dan saya tergolong orang yang jauh dari berita duka. Kakak saya ada lima, kelima2nya sudah menikah dan beranak. Adik saya satu, seorang laki-laki, masih single nih (doain yaaa :)). Keponakan saya ada banyak. Syukur alhamdulillah, kesemuanya sehat, dan masih lengkap. Meskipun bapak mertua saya sudah almarhum sejak 2001, namun kala itu saya masih belum kenal dengan suami saya, jadi nggak mengalaminya. Tapi juga sangat bersyukur bahwa ibu mertua saya yang sekarang usianya juga menginjak 60 tahun, masih sehat segar bugar. Kakak suami saya dua, salah satunya juga sudah menikah dan punya dua anak yang cantik. Alhamdulillah mereka juga semuanya dalam keadaan yang sehat, dan juga lengkap :)

Saya jadi kepikiran ditinggal salah satu orang yang saya cintai. Entah orang tua saya, atau kakak adik, ataupun ibu mertua. Ya Allah sekarang aja dada rasanya sesak ngebayanginnya. Astagfirullah haladziiiiiim. Jangan sampe deh! Yah, meskipun suatu hari nanti tetap akan terjadi. Namun saya selalu berdoa : Senantiasa sehatkanlah orang2 tercintaku ya Allah. Mamiku, papiku, suamiku, anakku, kakak2 adik ku, kakak2 iparku, keponakan2ku, teman2 ku, juga diriku. Lindungilah kami selalu. Jauhkan kami dari segala musibah, mara bahaya, cobaan, dan dari amarahMu. Jadikanlah kami orang2 yang bersyukur atas segala nikmat, anugerah, rizki, dan kebahagiaan dariMu ya Tuhanku. Amin.
Duh, apalagi kalau saya ada diposisi Tiyas ya? Gila kali saya kalo bayi saya "pergi" meninggalkan saya terlebih dahulu. Sehat terus ya anak Mama, panjang umur. Jadi anak baik, jadi anak pintar, jadi anak sholeh, jadilah anak yang selalu bersyukur, jadilah anak yang berbahagia, jadilah anak yang berguna, dan kelak menjadi sumber kebahagiaan bagi orang2 disekitarmu, Nak. Semoga Allah mengabulkan segala doa yang Mama panjatkan untukmu, Baby O ku. Juga segala doa yang saya panjatkan untuk orang2 tercintaku. Amin.


Baby O, bayi sempurnaku :)