Sabtu, 08 Juni 2013

My Dear Friend, J.

Udah lama sekali nggak nulis. Keadaan disibukkan dengan kemajuan perkembangan Baby O yang membuat setiap hari saya terasa begitu ajaib. Namun kabar yang saya terima beberapa hari lalu dari teman saya ketika di kampus itu membuat hati saya hancur berkeping2 secara tiba2 dalam sekejap.

Percakapan BBM itu diawali dengan normal..
"Nik"
"Yes, Shel?" Jawab saya
"Lo inget J kan?" Tanya teman saya, Shelly.
"Ingetlah." Bagaimana saya bisa melupakan orang sespecial J. "Kenapa?" Tanya saya lagi. Saya harap dia baik2 saja.

Saya jadi senyum2 sendiri jika mengingat awal perkenalan saya dengan J 8 tahun lalu. Kala itu saya masih kuliah. J merupakan salah satu murid yang menonjol. Dia cukup pintar namun tidak selalu serius, berpenampilan sederhana namun begitu menarik perhatian dengan rambut keriwilnya yang sebahu dan diikat ekor kuda sembarangan. Gayanya selengean, seperti lelaki lain di kampus saya kebanyakan, dan di semester 6 itu pertama kalinya saya sekelas dengan J.
Kerap kali saya berada disatu tempat yang sama dengan J, di kantin kampus, di warnet, di sekertariat, namun kami jarang bicara satu sama lain karena memang tidak dekat. Sering kali di kelas, si lelaki yang populer itu memalingkan mukanya dan tersenyun malu saat tertangkap basah oleh saya karena menatap saya terlalu lama secara diam2. Dan kerap kali, dia hampir akan selalu menyebut nama saya setiap kali ada dosen yang membiarkan murid yang sudah selesai presentasi untuk bisa memilih murid lain untuk mendapat giliran berikutnya. Dia akan menyebut nama saya dengan begitu ringannya, "Unik.", sambil berusaha mengulum senyumnya yang mengembang secara spontan, seperti seakan2 dia sudah menantikan hal ini, seakan2 dia sudah selalu merencanakannya. Dia akan menatap saya lekat sementara saya berdiri di depan kelas membacakan presentasi saya atau pendapat saya mengenai suatu topik tertentu dengan tidak terlalu bersemangat karena belum siap atau karena hal sepele lainnya. Saya pikir dia naksir saya atau apalah.
Lalu pada suatu mula diakhir kelas, seperti dalam adegan2 film dramatis kebanyakan, saya menjatuhkan file holder kuliah saya dan membuat seisinya berhamburan. Dengan cekatan dia mendekati, berjongkok, membantu memungut beberapa kertas catatan kuliah dan dua dari tiga foto saya bersama pacar saya yang memang saya selipkan di file yang ikut terjatuh dan memberikan pada saya tanpa saya minta.
"Well," ujarnya membuka percakapan "kalo ada tugas yang bikin kewalahan, gue siap bantu"
Saya memandang kearahnya dengan muka datar, meski jujur aja sedikit senang. Saya mahasiswi yang memang agak malas, dengan tawaran bantuan seperti itu tentu tidak akan saya lewatkan, tetapi saya memikirkan apa yang harus saya bayar untuk bantuan itu. Jelas, saya udah punya pacar tetap selama 3 tahun terakhir dan tidak ada rencana untuk menggantinya dalam waktu dekat ini, meski ternyata pacar saya itu memang akhirnya sekarang menjadi suami saya, namun seperti yang saya kira, dia bisa membaca pikiran saya "You can give me a chocolate or a box of cigarette for me as a trade" ujarnya
Maka saya bilang "We have a deal" menyalami tangannya dengan satu ayunan dan berharap ini bukan hanya trik semata.
Begitulah mulanya, yang secara alami menciptakan kedekatan saya dengan J, dimulai dari satu tugas ke tugas lainnya membuat keakraban kami semakin kuat. Dia mulai menanyakan hal2 pribadi saya disetiap kali ada kesempatan, tentang siapa pacar saya, sudah berapa lama dan lalala, lalu sesekali dia juga akan bercerita tentang kehidupan cintanya sedikit, karena dia orang yang agak tertutup. Saya tipikal orang yang tidak pernah ingin membuat orang lain tidak nyaman, sehingga saya jarang bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadi orang lain, kecuali tentu saja, jika mereka memang menginginkan untuk bercerita kepada saya terlebih dahulu. Sebaliknya, J justru semakin menyukai cerita2 pribadi saya setiap harinya, hal2 yang saya lakukan sehari2, tentang keluarga saya, namun terutama cerita seputar saya dengan pacar saya, bahkan begitu senang melihat foto2 saya dan pacar saya yang tersimpan di handphone bercamera saya.
Beberapa minggu kemudian ketika dia sedang bercerita tentang pacarnya saya meralat kata2nya sedikit, "Why you always said 'cowok gue, cowok gue'? Do you mean 'cewek gue'?" tanya saya lagi2 polos.
"OMG Unik, seriously that you don't know?"
"What?" Dia cengengesan. "Apaan nggak?" Saya penasaran.
"Hmm, I'm gay! Tapi jangan bilang siapa2 pleaseeee" Oh GOD! Saya bengong. Lanjutnya lagi, "Anyway, the other day, waktu kita nggak sengaja ketemu di mall nah cowok yang gue kenalin itu cowok gue! Cakep nggak?" Ujarnya ceria sambil bersandar dibahu saya.
Dari situlah keakrabannya semakin menjadi. Ketika J mulai terbuka kepada saya, bagaimana dia berkata bahwa dia begitu menyukai cara saya berbicara bahasa inggris, bahwa ternyata selama ini memandangi saya diam2 hanya karena dia ingin punya bibir dan tubuh penuh seperti saya, dan tentu saja secara diam2 mendambakan pacar saya.

Kembali kepercakapan saya dengan Shelly di BBM, Shelly membutuhkan waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan saya, maka tadinya saya mau lempar pertanyaan iseng 'Kenapa? Nikah dia?' Dan berharap seringan itu topiknya.
Well, meski kami tau jelas bahwa J is a gay, namun tidak sedikit teman gay saya yang akhirnya menikah.
Maka dengan harapan simple saya itu, Shelly akan menyampaikan entah undangan yang tidak sempat dikirim atau satu dari beribu alasan sederhana lainnya yang bisa menjadi alasan pertemuan kami kembali.
Namun kebisuan Shelly membuat saya yang penasaran memojokkannya dengan pertanyaan lain lagi, "Shel? Is he okay?"
Namun jawaban dalam dua kata itu sontak mengejutkan saya : "Dia meninggal"
Bagaimana mungkin? Tentu saja pertanyaan lainnya adalah are you sure? Kapan? Kenapa? Dimana? Blablablabla.

Dada saya sesak, airmata saya tumpah, tiba2 saya lupa caranya bernapas. Tiba2 saja saya merasa sulit untuk berpikir, namun tentu saja saya harus tetap fokus dan mencerna berita mengejutkan ini dengan hati2.

Saya masih teringat kekonyolan2nya hingga sekarang, saat saya perkenalan pertama kali dengan pacar saya yang begitu membuat dia salah tingkah dan pergi berhambur ke toilet untuk 5 menit sebelumnya untuk memasang bedak tipis dan lipstik kemerahan yang membuat dia lebih percaya diri. Dia yang selalu membiarkan saya memilih dimana kami akan makan disetiap jeda pergantian kelas setiap harinya, dan hanya mentertawakan saya saat saya memesan 3 porsi makan berat dalam sekali waktu makan tanpa pernah menghakimi. Yang pernah menemani saya berbelanja kado pernikahan untuk salah satu teman saya dan bersedia menggotong tanpa saya minta satu set perlengkapan makan seberat lebih dari 8 kilo dengan senang hati dalam perjalanan pulang. Yang selalu menawarkan saya pulang bersama dengan membonceng motornya dan membawa helm cadangan meski saya selalu menolak dengan halus.

Ada satu teman saya yang lain yang J kenalkan kepada saya, namanya Pauline. Pauline atau Paulina Winata yang merupakan mantan artis cilik di group vocal anak2 4 MC Cilik yang populer ditahun 90an bersama Erina GD, Chintya, dan Diva Nadia, dengan lagunya Paman Dolit-Jangan Bolos Sekolah.
Pauline merupakan salah satu sahabat baik J sejak SMA. Pauline lah salah satu orang yang membuat saya mencoba dunia akting. Kala itu, saya dan dua teman cewek saya lainnya diajak serta untuk coba ikut casting bersama Pauline. Hanya peran kecil yang muncul tidak lebih dari 5 menit dengan dialog 4 kalimat yang tidak begitu sulit disuatu sinetron remaja sekali tayang. Ternyata saya lolos, itu salah satu moment merasakan uang hasil keringat sendiri bagi saya meski honornya tidak seberapa meski melewatkan satu hari penuh yang melelahkan untuk syuting.
3 tahun lalu J lah yang memberitahu saya bahwa Pauline meninggal karena sakit, betapa kami berdua begitu bersedih dan berhari2 membicarakan kenangan kami bersama Pauline, yang telah pergi diusia begitu muda, 24 tahun.
Sekarang, saya tersentak lagi, J menutup usianya yang baru menginjak 27 tahun akibat tumor leher ganas yang entah sejak kapan dideritanya.

Ketika mulai bekerja di tahun 2007, saya dan J mulai tidak pernah bertemu satu sama lain karena kesibukan, namun tentu saat akhirnya bertemu kembali di social media seperti YM/BBM, facebook ataupun twitter, kami akan bertukar cerita, dan berjanji, saat kami berdua memiliki waktu senggang satu sama lain, kami akan saling mengabarkan untuk sekedar dinner and wine. Maka saya segera beli sebotol untuk menyambut pertemuan istimewa, yang sayangnya tak pernah terwujud itu.

Ada masa2 tertentu ketika seseorang menjadi begitu merasa lebih religius dan mengenal Tuhannya dengan lebih jauh. Bagi saya pribadi, itu adalah masa dimana ketika saya akhirnya hamil di tahun 2011 lalu, setelah 3 tahun menikah. Ditahun yang sama itu juga J yang saya kenal begitu periang dan ceria sedikit berubah. J menjadi lebih religius disaat yang sama dengan saya. Saya ikut senang tentu saja, dan tidak pernah menanyakan alasannya. Namun pembicaraan yang dulunya sering kali kami lewati seputar film dan buku yang tidak boleh dilewatkan, atau hottest fashion terbaru berubah menjadi topik seputar keagamaan. Topik sederhana seperti apa bedanya sunnah dan wajib, atau membahas pendapat berbeda seputar syarat sah sholat dan sebagainya. J pun mulai kerap mengirimkan hadist2 nabi dan doa2 baik lainnya untuk saya dan calon bayi saya. J pula lah yang saya jadikan orang pertama yang saya datangi ketika saat saya ragu untuk menaruh nama Muhammad di tengah, bukan diawalan nama anak saya, dan menjelaskan jawaban bahwa itu tak perlu dikhawatirkan selama tujuan saya menamai anak laki laki pertama saya itu dengan tujuan baik.
Unsur religius yang dia lakukan di social media menarik beberapa selebritis dan ustad2 terkenal hingga followers twitternya mencapai lebih dari lima puluh ribu orang.
Yang saya lihat, dia telah begitu banyak berubah dalam arti yang sangat baik beberapa tahun terakhir. Duniawi bukan lagi hal utama baginya, dia menebar kebaikan dengan tulus, mengetuk hati orang2 tanpa memojokkan, tanpa menghakimi, tanpa pamrih.

Kalimat Shelly berikutnya makin membuat saya menangis, ketika J kerap kali mengajak teman2 lainnya untuk mencari waktu agar bisa setidaknya berkunjung ke rumah saya dan saling bertemu. Saya teringat sebotol white wine yang masih tersimpan rapi di cabinet saya hingga sekarang yang telah saya beli sejak dulu ketika saya dan J merencanakan bertemu.

Kenapa begitu cepat? Kenapa begitu mendadak? Kenapa orang2 yang begitu dicintai begitu cepat pergi? Sesungguhnya Tuhan Maha Tahu. Saya tentu merindukannya. Saya begitu merasa kehilangan. Saya begitu menyesalkan bahwa saya tidak pernah berusaha lebih keras untuk membuat pertemuan kami terwujud.

Saya memeluk botol wine itu, membukanya hati2, menyesapnya perlahan. Membayangkan J berada disini bersama saya, tersenyum, menggenggam tangan saya.
Dia akan tahu bahwa kehadirannya akan selalu kami rindukan.

May your soul rest in peace, J.
-29 June 2012-

Sabtu, 02 Maret 2013

Baby O Shopping Murah Meriah

Kemarin main ke rumah Mama saya di Bekasi, kebetulan disana banyak sekali keponakan. Nah, ada salah satu keponakan saya Bintang 2 tahun yang bawa sepeda2annya, ada juga Vespa Pinky punya Kakak Nada 4 tahun yang bisa diinjek pedalnya dan maju mundur secara otomatis.

Baby O With Kakak Bintang

Keponakan saya yang namanya Nada ini emang lucu banget. Kecil2 hobby banget begadang. Alhasil kalo sekolah ya susah bangun. Sering kali berangkat dalam keadaan tidur di gendong sama Mbak Anna, sepupu saya yang begitu seneng ngurus Nada. Dan tetep tidur sementara temennya baris berbaris bersiap mau masuk kelas atau pun saat upacara bendera. Anehnya, meskipun tidur, otaknya yang begitu cerdas merekam. Pancasila aja hapal!
Well, anyway, berhubung semakin hari badannya semakin berat, maka dibeliinlah stroller untuk nganter ke sekolah. Lumayan, Mbak Anna nggak nggendong lagi. Setelah kakinya menjuntai terlalu panjang di stroller, akhirnya dibeliinlah Vespa mainan ini.
Play groupnya deket sekolah. Tapi dengan adanya Vespa Pinky mainan ini jadi lumayanan, Nada akan bangun untuk nyetir sendiri diiringi Mbak Anna. Lumayan deh, jadi nggak tidur sepanjang baris berbaris dan upacara lagi. Kemajuan :D

Nada driving her Pinky Vespa to pre-school




Begitu saya kirim foto Baby O main sepeda dengan begitu riangnya via ввм ke Hubby, lantas aja Abahnya itu mau beliin. Saya bilang saya mau langsung beli aja karena dekat rumah Mama di Bekasi ada toko mainan anak yang lengkap, dan harganya memang cuma Rp.105.000,- aja. Tapi kata HUbby "Jangan. Besok aja kita ke Tebet. Soalnya Ndeh mau ikut"

Oalaaaah, timbang mau beli sepeda aja kok se RT hihihiihi

Maka pagi ini sehabis sarapan dan mandi pagi *kecuali saya yang lagi males mandi* pergilah kami berempat ke Tebet sana.
Namanya Pasar Gembrong. Letaknya dipinggir jalan raya Casablanka situ deket Kampung Melayu. Jadi tinggal parkir mobil dipinggir, jalan 5meter, shopping sampe puas. Jam9 pagi udah buka kok, dan tutup jam 7.30malam. Kece juga ya :)

Rupanya Pasar Gembrong ini pusatnya mainan anak. Apa aja ada. Lengkap! Dan rupanya murah2. Masih boleh ditawar pula *namanya juga emak2*

Jadilah kita beli sebuah dua sepeda! Maklum, kalo udah ditempat begini jadi latah ya, apa aja dibeli. Untungnya kami cuma punya waktu sedikit untuk belanja karena akan pergi lagi, jadi akhirnya beli 5 item ini. Saya share ya :)


Begitu lihat sepeda merk Family ini saya langsung naksir, apalagi liat pengamannya. Lumayan nih buat Baby O jemur pagi. Lawong udah guede masa tiap jemur pagi masih pake stroller? Malu ah sama bayi. Baby O kan udah setahun lebih. Apalagi ada tangkai dibelakang untuk kendaliin roda depan. Jadi saya bisa bantu dorong *karena Baby O belum bisa gowes sepeda sendiri* dan nggak khawatir tau2 belok mengarah ke got atau tembok. Ada pelindung sinar mataharinya juga diatas yang bisa dilipet. Ada keranjang depan dan belakang, dan disertai tatakan kaki agar kaki bayi kita lebih aman. Nah sepeda ini juga dilengkapi dengan "shock breaker" yaitu berupa per dibawah jok agar lebih meminimalisir guncangan atau hentakan *halah, sepeda piyik aja, mau ada guncangan atau hentakan dari mana sih?* hihihihii
Ada dua tombol dibawah setang sepeda yang jika ditekan akan memutarkan beberapa lagu secara bergantian dengan lampu berkelap kelip yang menarik. Sayang begitu sampai di rumah rupanya lagunya ternyata lagu2 natal, sementara saya muslim. Ada pilihan lain atau enggak, saya kurang tahu deh. Ya udah nggakpapa lah ya, anak juga butuh pengetahuan kan ya :)
Nah saya pilih si hijau ini karena terlihat lebih manis dibanding yang merah. Kami tawar menawar, buka harga Rp.450.000,- akhirnya Rp.375.000,- pun dikasih tuh :)
Ada juga warna birunya, tapi tanpa shock breaker, harganya selisih Rp.20.000,- lebih murah.




Sepeda ini sih modelnya hampir sama kaya punya si Kakak Bintang. Cuma bedanya ini lebih tinggi sedikit dan ada 8 tombol yang juka ditekan akan memutarkan 22 lagu berbeda. Sepeda ini cuma seharga Rp.90.000,- saya nggak tawar lagi, langsung oke!
Sepeda yang persis sama dengan yang Bintang beli seharga Rp.105.000,- disana juga ada hanya seharga Rp.80.000,-
Dan Vespa Pinky punya Nada yang beli Rp.900.000,- buka harga Rp.950.000,- *belum ditawar, bisa kurang banyak kayanya*




Nah ini sih sebenernya kaya kuda2an, hanya aja saya pilihnya yang sapi. Ini cuma seharga Rp.90.000,- juga. Banyak model lainnya, ada juga yang kualitasnya lebih rendah *KW 2 katanya, gaya ya* Rp.80.000,-




Bola ini warnanya lucu, dan berbunyi karena berisi bola kecil yang isinya lonceng. Baby O seneng banget nih sama ini. Karena bola2 yang biasa Baby O beli hanya bola biasa, yang ini heboh :D
Kata Mbak yang jual "Rp.35.000,- masih boleh kurang" dan begitu saya bilang "Pasnya aja, Mbak, langsung" dia malah jawab "Ya udah, Rp.15.000,- aja" Waaaaaah, gile :) Ternyata bola ini semacam puzzle juga, bisa dibongkar kerangka luarnya.


Nah terakhir :


DRUM!
Ini sih obsesi Abahnya yang dulu pengen belajar drum tapi nggak kesampean.
Kemarin sempet lihat2 di Gramedia Matraman, ada juga drum yang sebenernya lebih kecil dari ini, tapi dibandrol Rp.400.000,- duh!
Pernah lihat di Plaza Semanggi lantai 3 dan di Mall Ambassador yang persis dengan yang saya beli ini, ya sama, Rp.400.000,- juga. Tapi di Pasar Gembrong ini saya dikasih harga Rp.125.000,- aja! Yaaaay!

Seneng banget Baby O punya mainan banyak, semobil langsung penuh!
Dapet 5 item nggak sampe Rp.700.000,- tuh!
Tapi kalo mau beli mobil2an atau motor2an yang harganya 5jutaan, disini juga ada lho :)

Belom apa2 drumnya udah remuk, buat main perahu2an kata Baby O. Huhuhuhu..


Senin, 25 Februari 2013

Baby O First Date :D


Jadi kemarin itu waktu kita stay di Hotel Manhattan, kita sempet main ke swimming poolnya, cuma nyari matahari pagi aja sih, nggak berenang, soalnya Baby O lagi pilek. Suasana di swimming pool area sepi, kosong, mungkin karena masih terlalu pagi. Lalu datenglah keluarga lainnya : satu Ayah dengan tiga anaknya, dua cewek, satu cowok. Pertama2 mereka melirik2 malu ke Baby O yang tiba2 nggak mau dipangku, maksa duduk sendiri dibangku deket pool. Diayun2 kakinya Bbay O yang menjuntai kebawah, sambil memandang kearah ketiga kakak2 yang baru datang tersebut. Basby O mulai melambaikan tangan, lalu senyum2 cengengesan, berusaha menarikperhatian mereka, atau mengirim sinyal bahwa Baby O welcome dan sangat ingin bermain sama mereka. Maka, ini yang terjadi....

 
Baby O tebar pesona

Si adik bungsu mulai mendekat

Dan makin dekat, Baby O ngeluarin jurus senyum manisnya


And finally, Baby O's first date!

Dan malemnya, Baby O gengges banget tiap Abahnya bobo, selalu digangguin

Abahnya diunyeng2 mukanya x))

Liat tuh muka puas Baby O pas berhasil bangunin Abahnya :D
Kalo yang ini sih tingkah Mamanya yang emang masa kecilnya kurang bahagia, hahaha. Iya, saya emang nggak punya ranjang bayi khusus kaya yang Baby O punya. Jadi mumpung karena ini properti hotel, maka saya nyemplunglah kedalam. Kalo yang di rumah takut jebol dan kudu beli lagi hihihi x))


Jarang2 kan Baby O ditemenin Mama diranjangnya kaya gini :p

Sabtu, 16 Februari 2013

Baby O at Manhattan

Abah ternyata kemarin udah booked a room for one night di Hotel Manhattan, Jakarta. Yang ada di daerah Casablanka, deket Mall Ambassador situ.
Valentine 5 tahun yang lalu juga Mama&Abah lewatkan di Hotel ini, berdua. Karena waktu itu Baby O belum lahir.
Kita nginep di Manhattan Suite, dengan view city. Kamar yang sama dengan 5 tahun yang lalu. Betapa istimewanya :)

Baby O at The Manhattan Suite
Kamar mandinya juga dilengkapin sama jacuzzi. Whoaaaa, asiknya. Pas banget buat Baby O yang lagi pilek gini :)
Baby O and Hubby in jacuzzi
 Jadi abis Lunch kemaren itu, kita check in deh kesana. Kita order baby bed juga karena Baby O di rumah biasa tidur disitu. Baby O semangat banget dari pertama dateng, nuansa baru :D

Baby O at his baby crib
Ini swimming poolnya. Tapi karena Baby O lagi pilek, jadi nggak berenang deh. Next time aja ya, Sayang :)


Paginya seperti biasa kita sarapan di coffee shop. Ini sarapan pertama Baby O di hotel. Biasanya kalo nginep di hotel Baby O makannya tetep baby  food, sekarang enggak lagi. Yay! Baby O makan beef sausage, onion and mushroom omelet, cheese fried rice, and some danish pastries. Yum!

Makan nasinya disuapin Mama
Danish pastrynya makan sendiri dooong :)
It was fun! Next time mungkin sama keluarga besar bakalan lebih seru :)

Jumat, 15 Februari 2013

Baby O First Birthday

Hari berganti. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Terlewati dengan satu hal yang tak pernah saya lupa : mencintai kamu sepenuh hatiku. Tulus.

Baby O the birthday boy!

Anakku tepat satu tahun hari ini. Subhanallah. Begitu bersyukur dengan karunia Allah yang begitu sempurna dalam kehidupan saya, titipanNya, berupa anak lelaki.

Baby O bukan bayi lagi, now become a toddler. Oh my kiddo!
Selalulah sehat dan pintar, Nak. Jadilah anak yang berbahagia sepanjang hidup kamu, anak yang kelak selalu bersyukur atas orangtua yang menggantikan dunia pribadinya dengan tema kamu dan hanya kamu sepanjang hidup kami.
Jadilah anak yang selalu hangat dan menceriakan kehidupan orang2 disekitar kamu.
Jadilah anak yang membanggakan kami. Yang selalu dilindungi Allah disetiap nafas yang kamu hembuskan, disetiap langkah yang kau jejak, disetiap kata yang kau ucap.
Tunjukkan pada dunia, betapa hebatnya kamu. Mama percaya, kamulah anak yang kelak sukses dan baik, Kesayanganku sedunia! Amin!

Bangun pagi sama Mama, kue yang dipesan khusus dari Ndeh dari Toko kue Dapur cokelat berupa Two Seasons Cake bertuliskan "Happy Birthday Oufar Smith" teronggok di meja. Dengan lilinnya yang berangka 1. Baby O bengong liat kue besar itu. Biasanya makanan yang sejak pertama dimakannya dimulai 6bulan lalu adalah makanan bayi buatan Mama&Ndeh, yang tanpa tambahan gula dan garam. Biasanya hanya berupa ayam/daging/ikan dengan sayuran, air, dan buah aja.
Kali ini Baby O boleh makan kuenya. Mulai sekarang boleh makan makanan normal, Sayang. Enjoy.
Thank you, Ndeh, udah kasih Baby O a surprise birthday cake. Kadonya kata Ndeh beli sendiri aja, Baby O boleh pilih. Uangnya 1juta dari Ndeh Mama yang simpenin ya, Sayang :)

Tiup lilin :)

Baby O and his first sweets! :D



"Can I have some more, Mama?"

Tingginya aja udah 80cm!Meski giginya udah ada 6 sejak usia 10bulan, tapi roman2nya mau tumbuh lagi nih giginya. Soalnya gejalanya muncul.

Siang ini mau makan siang di Crowne Plaza dulu, janjian sama mami angkatnya Baby O : @nyinyapanda. Ternyata Mami Nina bawa kado untuk Baby O. Makasih ya.

Gift from Mami Nina waktu lunch
 Dan ternyata isinya berupa mainan edukasi dari Fun Time berupa setir2an, lengkap dengan klakson, kunci starter dan persneling giginya! Waaah, Baby O suka banget! Soalnya kalo Abahnya lagi nyetir suka digangguin pengen ikutan sibuk, sekarang udah punya setir sendiri deh!

"I love your gift, Mami Nina! Thank you!"
 Meski sarapan tadi masih makan ikan tim tanpa bumbu *soalnya Ndeh lupa kalo Baby O udah boleh makan makanan dengan gula garam* makan siang kali ini Baby O makan makanan orang normal. Karena makannya di Akane, japanese restaurant favorit Mama, jadi Baby O makan : Chawan Mushi, Kamadaki Gohan, Tobiko Sashimi, Chicken Clear Soup with Vegetables, sama Grilled Salmon. Yummmmm!!!!
Dinnernya makan Nasi Kamadaki yang tadi di take away dari Akane, pake Soto Betawi isi Daging, sama nyobain Sup Buntut yang dipesen Abah. Hiiiih, gaya yah :)

Let's have a special time on you special day. Ready, love?

Selasa, 12 Februari 2013

Memori Setahun Yang Lalu

Langit yang murung sejak siang tadi akhirnya menangis. Menumpahkan jutaan titik air pada setiap detik. Bagaikan air mata yang tak dapat lagi dibendung atas perasaan luka yang telah lama terpendam. Seperti pecahnya tangis atas perasaan duka yang begitu menyakitkan. Layaknya euphoria atas berakhirnya kesedihan yang telah setia bertahun2 lamanya.
Hujan turun deras sekali tanpa aba2. Seakan dengan tiba2 memukuli pikiran saya bertubi2 dengan potongan2 cuplikan memori yang telah terlewati. Mengingatkan saya akan hari ini, tepat setahun yang lalu.

Tepat hari ini, setahun yang lalu H-3 :
Saat perut saya bulat penuh sempurna, begitu kencang dan membahagiakan
Saat setiap tendangan Baby O dari dalam perut dibalas dengan usapan lembut saya diiringi asma Allah
Saat frekuensi kontraksi mulai semakin sering dan membuat saya meringis
Saat Baby O bergerak begitu bebas dari dalam perut saya
Saat berat saya mencapai 74kilogram, naik 14kilo dari sebelum hamil
Saat kaki saya mulai kehilangan mata kakinya akibat membengkak dan menggemuk
Saat anak dikandungan saya hanya seberat 3,6kilo didalam kandungan saya, dan kini mencapai 12,5kilo
Saat saya sedang packing karena keesokan harinya harus mulai masuk ke RS Medistra untuk operasi Caesar lusanya dan ternyata harus diundur satu hari lagi berikutnya
Saat2 yang begitu menegangkan sekaligus membahagiakan bagi saya, bagi suami saya, dan bagi orang2 tercinta saya, untuk segera menyambut kehadiran penerus nama keluarga pertama dari pihak suami saya

My beaufitul big tummy at the hospital

H-2, masih nyempetin makan di restaurant favorit

Kaki saya yang galau karena kehilangan mata kakinya akibat membengkak dan menggemuk

Foto USG terakhir Baby O : 38weeks, 3600grams (3,6kg)

Kok ya sekarang udah segede 12,5kilo gini :D

 Time flies :) #Memories


Sabtu, 02 Februari 2013

Cerpen : Ketika Harus Memilih

Amanda memandang pantulan dirinya di depan cermin sekali lagi, memastikan bahwa penampilannya sudah sempurna. Dia tarik sarung tangannya lebih tinggi, dan mengencangkan pita dibelakang pinggangnya. Memandang wajahnya lebih dekat, memastikan make up dan tatanan rambutnya sudah sesuai dengan yang dia inginkan. Ini hari yang dia begitu tunggu2, hari yang dia bayangkan sejak kecil, dia imajinasikan, dia impi2kan. Hari istimewa bagi setiap wanita.
Dia memandang keluar melalui jendela, tempat dimana dia akan menghabiskan sorenya kedepan, jajaran meja persegi berisikan makanan, dan barisan puluhan kursi yang akan diisi orang2 terdekatnya untuk berbagi kebahagiaan menyaksikan hari spesialnya ini.
Dia memperhatikan meja bundar itu, dimana terdapat banyak gelas2 ramping yang tersusun menjulang keatas, para staff berambut licin dengan seragam rapih putih bergaris biru sibuk mengisi champagne kuning keemasan berbuih putih kedalamnya sesempurna mungkin, memastikan tidak ada yang menetes diatas taplak sutera berwarna biru langit yang menjadi alas dibawahnya.

"So there you are" Suara lembut yang tegas itu secara tiba2 membuyarkan lamunannya, Amanda tahu dia akan datang, namun Amanda tetap pada posisinya, tidak bergeming. "I'm not gonna say this twice," ujar suara dari sosok dibelakangnya itu lagi "If you really feel this is not right, then you can turn around, back to me, and runaway from here, with me, right now" Amanda tetap diam, berusaha tetap tenang dan seakan masih melihat keluar sementara sebenarnya perasaannya telah campur aduk. "Sebelum semuanya terlambat" lanjut sosok itu lagi.
Amanda menoleh. "Sorry, I'm not gonna do that." Amanda memandangnya langsung pada mata lawan bicaranya yang berwarna cokelat, yang begitu teduh, yang selalu menenangkan, yang telah membuatnya jatuh cinta bertahun2 lalu.
"Lalu, apa alasan kamu meninggalkan pesan yang kamu bilang penting untuk segera menghubungi kamu, Amanda, jika bukan ingin aku selamatkan dari semua ini?" tanyanya.
Amanda tercekat, namun berusaha tetap terlihat dalam kendali "Aku justru mau kasih tahu kamu, bahwa aku telah memilih dia, aku telah memilih jalan hidupku, bahwa aku memutuskan untuk melupakan kamu, dan aku sudah terlalu lelah untuk berbohong pada teman2 kita, keluarga kita, bahkan pada orang tua bahwa tidak ada yang istimewa diantara kita" airmatanya menggenang di kelopak matanya, Amanda mengerjapkannya beberapa kali agar airmata itu menghilang dan tak menetes.
"Amanda, aku melakukan itu karena kamu bilang belum siap untuk mengungkapkan semuanya, bukan aku yang memilih untuk menyembunyikan hubungan ini. Aku melakukannya untuk kamu, dan aku yakin kamu tahu itu!" Ada nada ketegangan dalam suaranya. Amanda terdiam, dadanya terasa sesak. "Kamu udah bikin aku terbang dua puluh kilometer jauhnya kesini, melintasi benua, meninggalkan beberapa persidangan dari kasus penting yang aku pegang dalam pekerjaanku hanya untuk memberitahu aku bahwa kamu akan menikah dengan pria yang tidak kamu cintai, di hari anniversary kita? Seriously? Dari 365hari yang ada, lalu kamu pilih hari ini? Hari yang selalu kita peringati bersama disetiap tahunnya dalam delapan tahun terakhir? What kind of joke is this?" Amanda melihat tangan lawan bicaranya mengepal, terlihat begitu kesal.
"I'm sorry, Sam. I'm telling you, I'm gonna marry him, and I'm gonna stay in this country, I'm gonna leave all my memories with you. And you're not gonna make me cry on my wedding day!" Amanda merasakan dagunya gemetar, dia menggigit bibirnya, menahan tangis.
"No, Amanda. I know you're lying. I know you don't want this. Dan kamu ngelakuin ini semua hanya demi orangtua kamu. Kamu patut mendapatkan kebahagiaan, more than this whole fake bullshit things! Let's start over, with me, Sayang." langkahnya mendekat
"Stop, stay there, jangan mendekat, Sam" Amanda mundur selangkah lalu berbalik, memandang lagi keluar, dimana bunga2 putih menghampar diseluruh rumput hijau dengan karpet menuju ke altar. Bel gereja berdentang empat kali, menandakan upacaranya akan segera dimulai.
"Baik kalau begitu. So, I need you to look me in the eyes. Tell me that you don't love me, that you don't want me, that I mean nothing for you. Do it now, lalu aku akan pergi dari kehidupan kamu, selamanya." ujarnya pada Amanda.
Ada jeda yang begitu panjang, kesunyian menyesap diantara mereka, Amanda merasa aliran darahnya bederu begitu cepat berjalan keatas tubuhnya, mengalirkannya keotak agar dapat berpikir dan merespon lebih cepat, namun kalimat itu begitu sulit keluar dari mulutnya, seperti tercekat di tenggorokan. Ada rasa panas menjalar ke wajah serta di kelopak matanya. Amanda menarik napas, sementara sosok dibelakangnya masih berdiri menunggu, takkan pergi sebelum mendengar jawabannya, jawaban yang bahkan Amanda sendiri tak ingin dengar, dan yakin bahwa lawan bicaranya memiliki keinginan yang sama dengan Amanda. Kesunyian itu seakan membuat Amanda dapat mendengar detak jantungnya sendiri "I don't love you, Sam. I'm so sorry" kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar tidak terlalu meyakinkan. Amanda jelas berbohong. Amanda memandang lawan bicaranya sekilas, lalu menunduk kan kepalanya, tak mampu memandang lawan bicaranya lebih lama, khawatir kebohongannya diketahui dengan begitu mudah. Amanda melihat airmatanya terjatuh ke lantai kayu mengkilap yang berwarna coklat tua yang menjadi pijakannya.
"Well, congratulation. I hope you're happy." Suara lawan bicaranya tercekat, terdengar rapuh dan begitu kecewa. Amanda tetap diam menahan napasnya, agar bahunya tak berguncang. "Have a nice life" ujarnya lagi, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh.
Amanda tetap diam disana. Dia tahu dirinya telah berbohong. Dadanya sesak dan hatinya seakan teriris.

Terdengar langkah kaki mendekat, dan sepasang tangan kokoh memeluknya dengan erat dari belakang, menusukkan ujung hidungnya yang runcing ke pipi Amanda dengan lembut. Amanda menghapus airmatanya, lalu menoleh. Pria berjas hitam yang berdiri didepannya itu begitu tampan, dengan matanya yang berbinar karena bahagia.
"Can you believe this? Our big day, Baby." senyum lebarnya menyeringai menghiasi wajahnya yang begitu atletis. "Oh, you look so gorgeous, Baby." Lalu mengecup kening Amanda lembut.
"You too, Partick. You look great as always, Sayang" ujar Amanda melingkarkan kedua lengan dipinggangnya.
"So are you ready for this?" Ujar pria itu.
"Yes, I can't wait any longer!" Jawab Amanda. Lalu Patrick menggandeng tangan Amanda, menemaninya melangkah keluar ruangan menuju ayah Amanda yang telah menunggunya.
"By the way, I saw Sam in the corridor. Dia bilang dia harus pergi. Sayang sekali dia nggak bisa lihat upacara pernikahan kita" Tanya Patrick.
"Yeah, too bad." ujar Amanda datar. Berbohong lagi.
Patrick berpaling menatap wajah Amanda, menurunkan kain hiasan kepala menutupi wajahnya. "Aku tunggu kamu di altar." Ujarnya, lalu meninggal Amanda bersama ayahnya untuk berjalan menuju altar saat musik dimulai.
Amanda mengucapkan 'I do' lalu pendeta mengesahkan mereka menjadi suami istri, lalu mereka diperkenankan berciuman.
Amanda dapat melihatnya, Sam, memandangnya dari kejauhan, lalu berjalan menjauh meninggalkan area pesta pernikahannya dengan mobil dengan kap terbuka, membiarkan angin sore menghembus melewati rambutnya yang dikuncir ekor kuda. Amanda ingat betapa dia menyukai aroma lavender yang selalu tercium dari rambut Sam saat Sam berada disekitarnya, dia yakin dia akan sangat merindukannya, Samantha, teman wanita yang sebenarnya begitu dicintainya itu.

----

Ketika semua orang merasa pantas untuk menilai orang lain. Dimana ada hal2 yang dianggap begitu tabu.
Bukankah kita semua patut berbahagia, dengan apapun kenyataannya, bagaimanapun perasaan yang kita miliki, siapapun orang yang kita pilih, demi mendapatkan kebahagiaan versi kita masing2?
Bagaimana dengan kamu??