Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2014

Dia.

Semua orang berbisik dan memandangnya saat dia lewat.
Dia. Wanita cantik dan sempurna itu, yang rambut gembal hitamnya selalu dilepas terurai menjuntai dibalik bahu dengan ujung ujung ikal sempurna membingkai wajah selonjong telur dengan bibir penuh merekah merah delima dan sapuan alis lebat yang hitam alami menaungi bola mata bulat hitam pekat dengan bulu mata panjang dan melengkung indah keatas dan kebawah meski tanpa sapuan maskara, teduh, sendu, dengan sendal bersol merah yang membungkus sepasang kaki jenjangnya, dengan jam tangan dan tas karya designer ternama serta pakaian sopan terhormat dan justru semakin menonjolkan kecantikannya tanpa perlu terlihat terbuka, yang membuat setiap pria menoleh setidaknya dua kali meski sedang bersama pasangan mereka saat dia melangkah percaya diri tak teralihkan dari kegiatannya sembari menggenggam jemari kecil anak lelakinya ditangan kanan dan putri kecilnya ditangan satunya yang keduanya begitu selalu tertawa riang dan merengek meminta perhatian ibu mereka yang cantik dan sempurna itu sesekali, membuat semua wanita lainnya cemburu dan panas hatinya melihat pasangan mereka memandangnya terbelalak tak berkedip membangkitkan jiwa pemangsa suami mereka yang telah lama teredam seraya bertanya tanya dalam hati "Siapa dia gerangan?" penuh rasa keingintahuan yang begitu dalam namun tak bisa mereka ucapkan sementara istri istri mereka berpikiran sama dengan konotasi bertolak belakang dan merasa kehadirannya membuat mereka terancam.
Dia, wanita cantik dan sempurna itu, yang dinikahi pria yang begitu tampan wajahnya, dengan hidung bangir sempurna bak patung romawi dengan rahang kokoh khas lelaki jantan sekuat karang dihiasi titik titik tipis hitam kebiruan jejak tumbuhnya janggut baru yang sebelumnya tercukur habis, yang bermata teduh dengan bola abu kehijauan, yang membuat wanitanya tenang hanya dalam sekali pandang, yang bertutur lembut dengan suara tegas dan lugas penuh wibawa, memperlihatkan jarak usia delapan tahun mereka yang tak pernah menjadi jurang, dengan tubuh tegap tinggi besar dengan sepasang tangan kokoh sedang yang mampu mengoyak jantung laki laki mata keranjang yang ingin mengganggu kebahagiannya cukup dengan sekali geram.
Dia, wanita yang cantik dan sempurna itu tetap berjalan anggun, seirama dengan musik yang tak seorangpun dengar, melewati mata mata usil yang mengekor penuh rasa penasaran terhadap keberadaannya bersama keluarganya yang sempurna. Duduk, memesan dengan sopan dengan suaranya yang semerdu dentingan gitar, menunggu sambil berbincang lalu menyantap makanan mereka sambil menyuapi anak lelaki dan perempuannya yang tetap duduk tenang hingga waktunya selesai. Si anak lelaki kecil melepas topinya berkata bahwa rambutnya berkeringat, dan si ibu yang cantik dan sempurna itu mengelap kulit kepalanya pelan halus dan hati hati lalu meniupnya satu kali menimbulkan sejenak udara dingin dan sejuk yang memang sejak tadi dinantinya dan memakaikan topi sang anak lelaki kembali dan membiarkannya bermain berlarian dengan adik perempuannya mengejar serpihan kuntum bunga bunga dan daun daun yang berjatuhan dan tertiup angin sore di pulau tropis nan eksotis, mereka bangkit dan beranjak, masih dengan mata mata orang orang sekitar yang masih berbisik dan sedikit getir membayangkan hidup mereka yang bertolak belakang dan sedikit berharap dapat menyesap sedikit merasakan bagaimana rasanya memiliki hidup semanis dan sesempurna yang tak pernah mereka miliki itu meski harus menunggu keajaiban Tuhan.
Dia, wanita cantik dan sempurna itu bangkit tak lupa membawa tas pantainya dengan dua huruf kapital konsonan sebagai simbol dari nama perancangnya, diikuti sang suami yang merapikan tempat duduk mereka kembali menempel kemeja rotan putih dengan sopan seperti letak semula dan mengucap terima kasih setelah membayar, menghampiri sang istri yang berdiri dengan sabar, membuat gaun putihnya seringan bulu yang melambai lambai dan menahan topi pantai bulatnya agar tak terbang tertiup angin. Sang suami membenarkan letak topi istrinya yang cantik dan sempurna itu yang sedikit miring dibalas senyum istrinya yang begitu menawan, lalu merangkul pinggangnya mesra lalu beranjak pergi sementara anak lelaki mereka berlari menuntun jalan diikuti adik perempuannya mendahului orangtuanya seakan mereka sudah tahu kemana tujuan berikutnya dan yakin bahwa orangtuanya takkan membiarkan keduanya menghilang karena terlalu jauh atau tersesat ditengah keramaian. Seakan setiap kata yang diucapkan dan setiap gerak gerik keempatnya telah terlukiskan diatas buku takdir yang paling sempurna dari Yang Maha Kuasa.
Ombak pantai menderu deru seakan menyemangati kasih sayang mereka yang tak pernah lupa dilibatkan dalam setiap kegiatan keseharian.
Kedua anaknya tiba di lobby hotel berbintang lima kelas dunia terbaik di sisi pantai diikuti kedua orangtuanya sambil berbincang ringan, penjaga berdasi kupu kupu dengan rambut klimis rapi dan rompi hitam serta kemeja putih cemerlang berkancing tersenyum mengucap selamat datang kembali dengan senyum mengembang membiarkan sang anak lelaki menggendong pinggang adik perempuannya agar mencapai tombol lift keatas seperti yang selalu mereka lakukan sejak empat hari lalu mereka tinggal, sang anak lelaki melompat lompat kecil tak sabar sementara anak perempuan mulai sibuk mengucek sebelah matanya, menunggu pintu yang akhirnya terbuka dan memperlihatkan kotak kecil yang mereka masuki ditutup dengan senyuman ramah dan sopan penuh hormat dari sang petugas penjaga, sang istri yang cantik dan sempurna itu duduk di sofa yang menyender dikaca tembus pandang dengan tiang tiang berulir panjang berwarna emas kemerahan dengan lukisan lukisan mahal khas eropa kuno yang akan membawa mereka ke lantai teratas tempat dimana griya tawang mereka tinggal.
Ting.
Pintu terbuka memperlihatkan koridor panjang berkarpet persia mewah nan tebal dan suasana sunyi senyap dengan lampu kuning temaram, sepasang pintu kokoh putih terbuka disambut bunga lili putih diatas vas bunga kristal besar ditengah ruangan diatas meja pualam. Kedua anaknya masuk ke kamar yang lebih kecil dengan dua ranjang nyaman sedang yang bersisian dipisahkan dengan meja berlampu kecil yang tak menyala, ibunya yang cantik dan sempurna itu mengganti baju kedua anaknya dengan penuh kasih dan keduanya pun jatuh tertidur kelelahan meski hari masih sore, lalu sang ibu yang cantik dan sempurna itu menyelimuti keduanya dengan nyaman dan mengecup kening keduanya bergantian dan mengucap selamat malam meski mata kedua anaknya telah rapat terpejam.
Kembali ke kamar utama yang besar dengan jendela kaca terbuka dan tirai putih berenda yang terbang ringan tertiup angin, dengan balkon besar berpagar hitam yang memperlihatkan sisi pantai tenang dan matahari oranye yang hampir tenggelam.
Sang suami menghampiri istrinya yang cantik dan sempurna itu, berkata bahwa dia telah menyiapkan layanan dua pengasuh anak bersertifikat untuk menjaga kedua anaknya esok hari sementara mereka akan melakukan perjalanan romantis berdua sepanjang hari dimulai dari mengunjungi perkebunan anggur pribadi milik suaminya yang telah diwariskan dari ibunya yang berjarak dua puluh kilometer tepat setelah makan pagi, dilanjutkan dengan diving kepulau kecil terdekat menggunakan yacht yang bertuliskan nama istrinya yang cantik dan sempurna itu atas hadiah ulang tahun istrinya yang cantik dan sempurna itu tepat diusia ke tiga puluh tahun setahun lalu yang sayangnya begitu jarang digunakan, ditutup dengan makan malam di restaurant perancis dengan wine vintage terbaik seperti yang istrinya yang cantik dan sempurna itu suka, mobil limo dengan supir akan siap pada pukul sembilan pagi, sang istri yang cantik dan sempurna itu tersenyum mengiyakan.
Sang suami menoleh lembut kearah istrinya yang duduk santai bersandar santai dipapan ranjang, menepis rambut istrinya yang terurai dan menyematkannya kebelakang telinga, mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan berkata bahwa dia ingin berada disini selamanya dengannya dan kedua anak sempurna mereka, merengkuh wajah sang istri dan menciumnya dengan lembut seraya melucuti pakaiannya perlahan. Menciumi dari ujung jemari kakinya yang jenjang hingga ke perutnya yang ramping sempurna, meraba kesegala arah diatas kulitnya yang berpendar pendar dan saling mengejar napas. Sang suami berada diatasnya memeluknya erat, bangkit dan memandang dirinya yang telanjang, mendekatinya kembali, mengangkat sebelah kaki istrinya yang cantik dan sempurna itu keatas bahunya dan sang istri tersenyum melihat dada bidang suaminya yang terpahat sempurna bagaikan patung dari pualam, berpeluh, garang, sempurna. Siluet keduanya dari sisi tirai ranjang yang terpapar matahari senja begitu indah, keduanya bersatu, saling membelit, tumpang tindih, melenguh, memeluk, menggeram, mencengkram, berseru, lekat, naik, turun, pelan, cepat, tengadah, miring, berdiri, duduk, berhadapan, saling menatap, tak berhenti. Mereka bercinta hingga tengah malam.
Sang suami memeluk istrinya yang cantik dan sempurna itu penuh cinta lalu menyematkan sesuatu di jari manis kirinya seraya berkata bahwa betapa dia bersyukur memilikinya dan bersumpah setia seperti yang selama ini dia buktikan, tak ingin terpisahkan hingga ajal datang menjemputnya, mengucap kata bahwa dia mencintainya, yang membuat istrinya dengan pipi semu kemerahan bergetar hatinya, suaminya tersenyum dan mencium bibir istrinya sekali lagi, lalu merapatkan kedua matanya, dan tertidur kelelahan bagaikan seorang bayi yang sudah kenyang. Begitu tampan, indah, damai, dan nyenyak disisi istrinya.
Sang istri bangkit perlahan tak ingin suaminya terbangun, mengambil secarik kertas dan pena lalu menulis dengan cepat
"Semakin hari semakin sulit aku jalani. Semakin hari yang aku rasa aku semakin tidak berbahagia. Apakah aku patut menerimanya? Apakah aku patut tidak merasa bahagia? Aku tidak ingin terus bermimpi, aku tidak ingin terus berandai2, aku tidak ingin suatu hari nanti aku tersadar dipenuhi dengan kata2 : bagaimana jika, atau seandainya. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Sulit, susah, tidak mungkin. Karena komitmen yang telah aku buat sendiri. Tapi semakin hari semakin kuat rasa yg aku inginkan : yaitu rasa ingin bebas melakukan apa yang aku mau. Tidak semata dipandang dengan aturan aturan yang dia buat, atau ibunya buat. Aku lelah terpenjara. Aku bahkan tidak merasa yakin sampai kapan aku bisa bertahan, berjuang sendirian dari satu hal yang sejak dulu aku hindarkan : perceraian. Aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku, ataupun tentunya keluargaku. Dirinya. Orangtuanya. Keluarganya. Anak anakku. Dan Tuhan. Tapi apakah itu artinya aku harus mengorbankan kebahagiaan aku sendiri? Sampai kapan? Ataukah justru aku sekarang hanya terperosok dilubang yang ternyata telah aku buat sendiri?
Jika memang dia mencintai aku sepenuhnya, bagaimana dia tidak bisa tahu bahwa aku tidak berbahagia?"
Dia yang cantik dan sempurna itu berhenti. Merasa tak sanggup lagi menulis dan menggupal kertasnya menjadi satu seperti sebelumnya dan membuangnya ke luar jendela jauh jauh sambil merasa pedih dan sakit didalam dadanya. Dadanya sesak dan terasa ingin meledak. Terduduk tanpa busana dilantai, dia memeluk kakinya dan menyandarkan kepala dilututnya.
Memandang cincin berlian kuning besar yang berkilauan yang meliuk sempurna di jari manisnya, lalu berpikir : 'Jika hidupku begitu sempurna, lalu mengapa aku begitu menginginkan dia?'
Dia, wanita cantik dan sempurna itu, punggungnya berguncang guncang, terisak isak.
Airmatanya berderai.

Minggu, 30 Maret 2014

#cerpen

Dia membuka matanya yang telah lama rapat terpejam, mengecup kedua jemarinya yang bertaut begitu erat hingga daging dagingnya memutih dan diletakan didepan dada sambil mengucapkan kata-kata yang hanya bisa didengar olehnya dengan begitu bersungguh-sungguh berulang ulang, lalu bangkit dari tumpuan lututnya sambil menyeka airmatanya perlahan. Berdiri tegak, berbalik, menoleh kembali ke patung dewa-dewa yang terpajang kokoh, kaku dan diam disamping dupa2 dan bertabur bunga dengan lilin lilin dengan api keemasan yang tak henti menari diatas piring perak besar berkilauan sekali lagi, berharap para dewa mendengar doa yang baru saja dia panjatkan sepanjang malam sebulan terakhir, meninggalkan kuil menuju delapan dayang-dayang yang setia menemaninya kemanapun dia pergi, menimbulkan dentaman langkah-langkah pelan yang teratur melewati pilar-pilar kokoh tinggi disekeliling istana dari balik jendela-jendela besar berpermata.
Dua dari enam penjaga pintu berbaju besi telah menjaga pintu agar terbuka lebar sejak melihatnya muncul diujung lorong, membungkuk hormat tanpa berani memandang matanya karena itu akan dianggap tidak hormat dan takkan bangkit hingga dia lewat.
Dia tersenyum sedikit kepada mereka meski itu tidak diharuskan, menaiki tangga pualam yang melingkar lingkar dengan elok dan begitu tinggi hingga seakan menuju keujung langit, tempat dimana anak-anak lelakinya bermain. Memeluk mereka satu persatu dan mencium kening-kening putih berdaging lembut dengan pipi bulat kemerahan. Terdengar derak derak sepatu kuda dari kejauhan, membuat ketiga anak lelakinya sontak melempar apa yang mereka pegang dan menarik narik gaun panjang ibunya. Memandangnya penuh harap dengat mata bulat sepenuh bulan purnama menyiratkan pertanyaan yang dia sudah tau apa.
Dia tersenyum, anggukannya membuat ketiga anaknya bersorakan.
Derap langkah menaiki tangga terdengar semakin mendekat. Dia duduk tenang diatas kursi panjang berbalut kain sehalus beludru merah keemasan dan menarik napas panjang sambil membetulkan letak ekor gaun putihnya yang selembut sutera, berharap bisa menyembunyikan kegelisahannya sendiri. Berharap tak ada penghuni istana yang cukup bodoh dan lancang mengatakan dimana dia menghabiskan waktunya sebulan terakhir tanpa diminta.

Seorang pria berbadan tegap dengan mahkota besar diatasnya masuk keruangan, disambut pelukan rindu dari ketiga anak lelakinya yang ditinggal selama berbulan bulan, menggendong mereka sekaligus hanya dengan satu kali rengkuhan dan menciumi mereka seakan tak ada hari esok, membuat ketiga anak itu terbahak bahak mengekspresikan kebahagiaan mereka, layaknya sambutan hangat yang ayahnya selalu bayangkan setiap kali melakukan perjalanan. Pria itu mendekati istrinya, tersenyum lebar memamerkan gigi sempurnanya yang berjejer rapi, seputih tulang dan sekuat gading.
"Tidakkah kamu tahu betapa aku merindukanmu, Permaisuriku?" Ujarnya sambil merengkuh istrinya lembut dan menenggelamkan wajahnya ditengkuk sang istri. Sang istri meraih tangan kokoh suaminya dan menciumnya tiga kali, seperti yang seharusnya, baru saja akan membalas kerinduannya hingga suara lainnya memasuki ruangan.
"Apakah itu suara anakku yang begitu aku rindukan?" Sang putra bangkit tersenyum, wanita paruh baya itu lanjut berkata "Tidakkah kau merindukan ibumu yang tua renta ini, anakku?" Sambil merentangkan tangannya.
Sang anak memeluknya, berlutut dan mencium kedua tangannya tiga kali masing masing secara bergantian seperti yang seharusnya.
"Tentu saja aku merindukanmu, Ibuku. Dan kau tidak tua dan renta, kau masih tetap cantik seperti halnya ketika kau masih menjadi Ratu seperti dulu"
Sang ibu kontan mengerutkan keningnya "Jangan konyol anakku, aku masihlah tetap Ratu diistanamu ini" lalu tersenyum sambil melingkarkan lengan dibalik pinggang putranya seraya mengajaknya beranjak "Tidakkah kau lelah setelah menempuh perjalanan panjang? Mandilah, kau butuh beristirahat, mari berendam, Ibu akan menemanimu dan menggosok punggungmu seperti saat kau kecil dulu, setelah itu akan Ibu siapkan pesta makan malam besar menyambut kepulanganmu, ceritakanlah pada Ibu seperti apa indahnya dunia dibelahan sana" sambil membawa sang anak pergi menjauh.
Sang putra menghentikan langkahnya "Ibu, bisakah aku mencurahkan dulu kerinduanku kepada istri dan ketiga anakku?" Ujarnya sambil setengah membungkuk.
Sang ibu sedikit keberatan namun akhirnya berkata "Ya, ya, tentu saja. Kalau begitu Ibu akan menunggumu di kolam mata air panas. Dan sebaiknya kau tidak biarkan Ibu terlalu lama menunggu"
"Baik Ibu, tentu saja, aku akan segera menyusulmu." Ujarnya sambil mencium kedua tangan ibunya masing masing tiga kali seperti yang seharusnya.
"Sampai mana kita tadi?" Ujar sang suami setelah ibunya pergi.
"Sampai saat aku ingin menciummu" ujar sang istri
"Maka lakukanlah" lalu sang suami memejamkan matanya dan merengkuh lembut wajah istrinya. "Mari, ikutlah ke kolam bersamaku" ujarnya lagi.
"Oh tidak terima kasih. Aku baru saja mandi dan mengenakan korset ini hingga waktu tidur tiba nanti untuk membuatku tetap cantik. Lagi pula, rakyat jelata tidak berbagi air dengan Raja dan Ratu."
"Berhentilah mengatakan itu, kau lah justru satu satunya gadis jelata yang telah memberikanku tiga putra mahkota sekaligus yang akan mewariskan tahtaku dari ratusan wanita yang telah kutemui, kaulah gadis jelata yang sepenuhnya aku cintai dan akhirnya kupilih menjadi satu satunya pendamping setiaku. Kau lah gadis jelata yang aku inginkan untuk bersanding duduk di istanaku. Kaulah gadis jelata yang telah berhasil menjadi pelabuhan cintaku. Aku Raja mereka, namun aku tetaplah suamimu."
"Tidak, sungguh, aku tak apa, temanilah ibumu, aku akan melihat bagaimana naga nagaku"
"Sejak kapan kau mulai tertarik dengan mahluk yang dulu kau selalu sebut buas itu?"
"Sejak kau, Rajaku, telah membuka mataku dan memberikan padaku bayi naga naga mungil seputih awan dengan asap dingin dan airmata rubi yang begitu cantik hingga membuatku jatuh hati."
"Aku senang mendengarnya, aku harap sebentar lagi kau juga akan bergabung mengendarai naga bersamaku dan ketiga putramu, akan lebih menyenangkan dengan kehadiranmu"
"Mungkin saja" ujar sang permaisuri lalu berlalu.

Dan gadis jelata lalu pergi melihat naganya, tentu saja dengan delapan dayang dayang serta selusin prajurit mengikutinya. Memandang kesegala arah mencari sosok lain selain delapan belas naga yang berada disana.
Dia melihatnya dari kejauhan. Dia mengangkat tangannya memberi tanda pada para dayang dan prajurit yang berjalan dibelakangnya. 

Diantara pepohonan tinggi menjulang dan rimbunnya dedaunan hijau serta ranting ranting kering yang mencuat tajam. Dia berjalan lebih cepat, daun kering bergemerisik renyah seiring langkah kakinya yang mendekat. Hatinya bersenandung memainkan irama merdu yang dia sendiri tak yakin pernah mendengarnya. Perutnya bergejolak, seakan kian lama rasanya dia sudah tak merasakan sensasi aneh itu dalam dirinya, dan merasa mual lalu ingin muntah.

Lelaki dari kejauhan yang sedang melatih naga itu menoleh, meletakkan keranjangnya berisi apel apel ranum dan menundukan kepalanya seraya berlutut memberi hormat dan tak beranjak beberapa saat.
"Jangan konyol, bangkitlah" ujar sang permaisuri seraya menarik lengan si penjaga naga dan memeluknya erat, tersenyum begitu lebar tanpa ia sadar, "senang bisa bertemu denganmu lagi hari ini. Bukan sudah pernah kukatakan tak perlu kau lakukan itu jika hanya ada aku?"
Si penjaga naga yang berkulit bersih dan bertubuh kurus tersenyum lebar kembali sambil mengangkat keranjang kayunya dan melemparkan isinya satu demi satu kepada naga berkepala kristal "Aku tidak ingin mengambil resiko, bahkan, berbicara sambil terus memandang matamu terasa begitu berat bagiku, seakan sepertinya ajal akan segera menemuiku sepulang nanti"
Sang permaisuri berkata "Tentu saja aku takkan membiarkan mereka melakukan itu, Bodoh" lalu tertawa lepas.
"Whoa, bukankah seorang permaisuri tidak diperkenankan memaki dan berbicara seperti itu?"
Sang permaisuri terdiam "Aku rindu diperlakukan wajar seperti dulu, aku rindu melakukan hal hal sesukaku, biar bagaimanapun aku sama denganmu. Aku masih seperti yang dulu" ujarnya
"Tentu saja, selain hanya kau sekarang memakai benda itu." Si penjaga naga mencibir menatap ujung kepalanya
"Aku berharap tak perlu memakainya, berat rasanya, cobalah" ujarnya sambil meletakan tiara itu dikepala si penjaga naga
"Jangan, aku tidak pantas" ujar si penjaga naga sambil mengelak
"Kalau aku pantas, tentu saja kamu pantas." Dikenakan kembali tiaranya "Apa yang kita bisa lakukan hari ini?" 
"Apapun yang kau mau"
"Bisakah kau ajari aku menunggangi naga lagi?" Sang permaisuri berbinar.
"Tentu saja, namun kali ini kau harus benar benar berpegang erat padaku, aku tidak ingin mendapat masalah jika akhirnya kau terjatuh" ujar sang penjaga naga sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Atau bagaimana kalau kita lepas naga naga itu dan berlomba memasukan mereka kembali ke kandang seperti kemarin?"
"Itu juga boleh, apapun yang kau inginkan. Naga putih sudah hampir sembuh seperti sedia kala, maka sebentar lagi jasaku tak akan dibutuhkan"
"Tidak bisa kah kau tetap tinggal?"
"Bukan keputusanku, tentu saja jika Sang Raja menginginkan aku tetap tinggal, maka aku tetap tinggal"
"Akan menjadi berita buruk bagi istrimu"
"Kurasa tidak seburuk itu"
Keduanya berpandangan dan saling menghindar dari tatapan satu sama lain secara bersamaan, saling berpaling dari potongan potongan kenangan masa lalu mereka saat mereka terlalu muda dan saling tak tahu bagaimana kah rupa sang cinta.
"Aku sedikit terkejut setelah tahu kau sudah menikah, yang aku lihat, dulu kau selalu sendirian. Di hutan, di sungai, di kaki gunung, dimana mana, seakan kau selalu ada dimana aku berada" ujar sang permaisuri
"Aku memang mengikutimu" ujar penjaga naga tertawa, seperti lega mengakuinya.
"Jika kau terlalu sibuk mengikutiku, lalu kapan kau mengenal istrimu?"
"Setelah aku tahu bahwa kau dipersunting Sang Raja" ujar sang penjaga naga, pelan.
"Ah ya, lucu sekali" ujar si permaisuri mencibir sambil meninju lengan si penjaga naga perlahan.
"Aku tidak bercanda." Ujarnya sambil menepis tangan si permaisuri dan menggenggamnya erat seperti yang sejak dulu ingin dilakukannya, tak melepasnya, lalu menatap matanya dalam dalam. "Aku menikahinya setelah tahu bahwa kau melahirkan banyak putra mahkota dan tahu harapanku telah habis" lanjutnya.
"Ah ya, tentu saja" ujar sang permaisuri berusaha tetap datar.
Dadanya tiba tiba terasa penuh dan sesak. Sang permaisuri melangkah pergi menjauh dan tak menoleh lagi, tak menghiraukan panggilan si penjaga naga yang terpaku serta pecah berkeping keping hatinya.
Sang permaisuri terus berjalan menjauhi hutan diikuti dayang dayang yang telah diperintahkannya menunggu disetengah perjalanan sambil perlahan mengusap airmatanya yang menganak sungai dan tak berhenti menetes serta merta menangis pilu dari balik kokohnya tembok istana. Teringat doa yang akhir akhir ini dia panjatkan disepanjang malam berulang ulang hingga pagi menjelang, bahwa satu satunya yang dia inginkan, hanyalah si penjaga naga yang begitu sederhana.

Senin, 24 Februari 2014

Perempuan Bernama Murni

Mungkin sudah campur tangan Tuhan, atas pertemuan kami. Seperti halnya jodoh, setiap kali ku panjatkan doa agar hubungan kami langgeng, kekal dan abadi selamanya, hingga maut memisahkan.
Hati berdebar senang tiap menunggu kedatangannya.
Khawatir jika dia berkata tak enak badan.
Gelisah saat dia mulai jarang tertawa.
Apakah dia sudah tidak lagi berbahagia bersamaku?
Membayangkan dia berpaling kelain hati dan pergi meninggalkanku, memikirkan bagaimana rupanya jika hidup tanpanya, getir rasanya.
Membuat kita bersikap semanis mungkin, agar dia tak tergoda jutaan gula-gula lain diluar sana.
Perasaan ini tatkala membuatku ingin tampil layaknya manusia tanpa cela agar dia terus menatap dan mengagumiku.
Berperilaku layaknya dewa agar seakan akulah satu2nya mahluk paling sempurna yang bisa dia puja.

Saat dia mengatakan bahwa dia sungguh beruntung memilikiku, hatiku berbisik 'Benarkah?'
Tak perlukah lagi aku ikut menari hanya untuk membuatnya tersenyum?
Sudah cukupkah puji yang ku lontarkan kepadanya?
Apakah dia titisan Tuhan, untuk melengkapi hidup bahagiaku yang selama ini ternyata belum sempurna?
Yakinkah kau, Murni, bahwa tak ada sepasang sayap putih yang berbulu lembut dan menyebarkan bau harum semerbak yang dapat membuatmu kembali ke khayangan tempat asalmu dengan sekali kepak dibalik bajumu yang sederhana itu?
Biarkan aku melihatnya, untuk menghilangkan rasa penasaranku.
Perbuatan suci apakah yang telah aku lakukan hingga Tuhan merasa aku layak memilikimu?
Bagaikan seekor anjing kecil, kuikuti kemanapun dia pergi. Ke bawah jendela, ke belakang pintu, ditengah pusara kolam, diatas tangga-tangga curam, dibalik tirai-tirai panjang yang menampilkan siluet tubuhnya yang berlekuk indah dengan tangan menengadah menari, melukis, mewarnai dan memasang pelangi.

"Aku senang berbincang denganmu, tapi aku harus bekerja" ujarnya
"Bekerja lah. Kamu bisa tetap bekerja meski sambil berbincang denganku, bukan? Aku takkan mengganggumu" jawabku
"Jika kau berada disini, aku tak bisa memukan iramaku dan bersenandung, jika aku tak bersenandung, maka tugasku tidak akan selesai. Lalu buat apa aku disini?" ujarnya lagi
"Baiklah jika itu mau mu" jawabku sambil tersenyum menutupi kekecewaan, berpaling memunggunginya siap pergi berlalu
"Jangan bersedih." Cegahnya lembut. "Aku tak bermaksut menyakitimu."
"Aku mengerti." Jawabku memandang mata cokelatnya yang temaram sambil tersenyum, "Berjanjilah padaku jika kau sudah selesai dengan tugasmu, kau akan berbincang denganku"
"Aku berjanji" jawabnya lagi, tersenyum lebar sedikit malu.
Maka aku kembali ke tempatku, menunggunya, sambil mendengarkan senandung kecil dengan iringan suara merdu harpa emasnya selagi bekerja, dari atas awan.

***

Terinspirasi dari seorang wanita bernama Murni, usianya 37tahun. Kulitnya sawo matang, berambut lebat, ikal kering dan gembal membuat wajah lonjongnya yang ramah khas Jawa Tengah terlihat sedap saat tertawa lepas. Selera humornya tinggi, sama seperti saya. Sedikit gemuk namun gerakannya gesit dan cekatan. Tak terlalu cantik, namun selalu membuat saya bisa tersenyum berbunga2 dengan mata berbinar tanpa sadar setiap kali saya membicarakannya, menyiratkan akan ketertarikan saya, akan kecintaan saya yang terus tumbuh setiap harinya, sejak pertama kali saya mengenalnya beberapa hari lalu.

Murni, panjanglah umurmu, sehatlah selalu, agar tetap menceriakan hariku dan menyenyakkan tidurku. Bersamamu, aku tenang.

Sabtu, 02 Februari 2013

Cerpen : Ketika Harus Memilih

Amanda memandang pantulan dirinya di depan cermin sekali lagi, memastikan bahwa penampilannya sudah sempurna. Dia tarik sarung tangannya lebih tinggi, dan mengencangkan pita dibelakang pinggangnya. Memandang wajahnya lebih dekat, memastikan make up dan tatanan rambutnya sudah sesuai dengan yang dia inginkan. Ini hari yang dia begitu tunggu2, hari yang dia bayangkan sejak kecil, dia imajinasikan, dia impi2kan. Hari istimewa bagi setiap wanita.
Dia memandang keluar melalui jendela, tempat dimana dia akan menghabiskan sorenya kedepan, jajaran meja persegi berisikan makanan, dan barisan puluhan kursi yang akan diisi orang2 terdekatnya untuk berbagi kebahagiaan menyaksikan hari spesialnya ini.
Dia memperhatikan meja bundar itu, dimana terdapat banyak gelas2 ramping yang tersusun menjulang keatas, para staff berambut licin dengan seragam rapih putih bergaris biru sibuk mengisi champagne kuning keemasan berbuih putih kedalamnya sesempurna mungkin, memastikan tidak ada yang menetes diatas taplak sutera berwarna biru langit yang menjadi alas dibawahnya.

"So there you are" Suara lembut yang tegas itu secara tiba2 membuyarkan lamunannya, Amanda tahu dia akan datang, namun Amanda tetap pada posisinya, tidak bergeming. "I'm not gonna say this twice," ujar suara dari sosok dibelakangnya itu lagi "If you really feel this is not right, then you can turn around, back to me, and runaway from here, with me, right now" Amanda tetap diam, berusaha tetap tenang dan seakan masih melihat keluar sementara sebenarnya perasaannya telah campur aduk. "Sebelum semuanya terlambat" lanjut sosok itu lagi.
Amanda menoleh. "Sorry, I'm not gonna do that." Amanda memandangnya langsung pada mata lawan bicaranya yang berwarna cokelat, yang begitu teduh, yang selalu menenangkan, yang telah membuatnya jatuh cinta bertahun2 lalu.
"Lalu, apa alasan kamu meninggalkan pesan yang kamu bilang penting untuk segera menghubungi kamu, Amanda, jika bukan ingin aku selamatkan dari semua ini?" tanyanya.
Amanda tercekat, namun berusaha tetap terlihat dalam kendali "Aku justru mau kasih tahu kamu, bahwa aku telah memilih dia, aku telah memilih jalan hidupku, bahwa aku memutuskan untuk melupakan kamu, dan aku sudah terlalu lelah untuk berbohong pada teman2 kita, keluarga kita, bahkan pada orang tua bahwa tidak ada yang istimewa diantara kita" airmatanya menggenang di kelopak matanya, Amanda mengerjapkannya beberapa kali agar airmata itu menghilang dan tak menetes.
"Amanda, aku melakukan itu karena kamu bilang belum siap untuk mengungkapkan semuanya, bukan aku yang memilih untuk menyembunyikan hubungan ini. Aku melakukannya untuk kamu, dan aku yakin kamu tahu itu!" Ada nada ketegangan dalam suaranya. Amanda terdiam, dadanya terasa sesak. "Kamu udah bikin aku terbang dua puluh kilometer jauhnya kesini, melintasi benua, meninggalkan beberapa persidangan dari kasus penting yang aku pegang dalam pekerjaanku hanya untuk memberitahu aku bahwa kamu akan menikah dengan pria yang tidak kamu cintai, di hari anniversary kita? Seriously? Dari 365hari yang ada, lalu kamu pilih hari ini? Hari yang selalu kita peringati bersama disetiap tahunnya dalam delapan tahun terakhir? What kind of joke is this?" Amanda melihat tangan lawan bicaranya mengepal, terlihat begitu kesal.
"I'm sorry, Sam. I'm telling you, I'm gonna marry him, and I'm gonna stay in this country, I'm gonna leave all my memories with you. And you're not gonna make me cry on my wedding day!" Amanda merasakan dagunya gemetar, dia menggigit bibirnya, menahan tangis.
"No, Amanda. I know you're lying. I know you don't want this. Dan kamu ngelakuin ini semua hanya demi orangtua kamu. Kamu patut mendapatkan kebahagiaan, more than this whole fake bullshit things! Let's start over, with me, Sayang." langkahnya mendekat
"Stop, stay there, jangan mendekat, Sam" Amanda mundur selangkah lalu berbalik, memandang lagi keluar, dimana bunga2 putih menghampar diseluruh rumput hijau dengan karpet menuju ke altar. Bel gereja berdentang empat kali, menandakan upacaranya akan segera dimulai.
"Baik kalau begitu. So, I need you to look me in the eyes. Tell me that you don't love me, that you don't want me, that I mean nothing for you. Do it now, lalu aku akan pergi dari kehidupan kamu, selamanya." ujarnya pada Amanda.
Ada jeda yang begitu panjang, kesunyian menyesap diantara mereka, Amanda merasa aliran darahnya bederu begitu cepat berjalan keatas tubuhnya, mengalirkannya keotak agar dapat berpikir dan merespon lebih cepat, namun kalimat itu begitu sulit keluar dari mulutnya, seperti tercekat di tenggorokan. Ada rasa panas menjalar ke wajah serta di kelopak matanya. Amanda menarik napas, sementara sosok dibelakangnya masih berdiri menunggu, takkan pergi sebelum mendengar jawabannya, jawaban yang bahkan Amanda sendiri tak ingin dengar, dan yakin bahwa lawan bicaranya memiliki keinginan yang sama dengan Amanda. Kesunyian itu seakan membuat Amanda dapat mendengar detak jantungnya sendiri "I don't love you, Sam. I'm so sorry" kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar tidak terlalu meyakinkan. Amanda jelas berbohong. Amanda memandang lawan bicaranya sekilas, lalu menunduk kan kepalanya, tak mampu memandang lawan bicaranya lebih lama, khawatir kebohongannya diketahui dengan begitu mudah. Amanda melihat airmatanya terjatuh ke lantai kayu mengkilap yang berwarna coklat tua yang menjadi pijakannya.
"Well, congratulation. I hope you're happy." Suara lawan bicaranya tercekat, terdengar rapuh dan begitu kecewa. Amanda tetap diam menahan napasnya, agar bahunya tak berguncang. "Have a nice life" ujarnya lagi, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh.
Amanda tetap diam disana. Dia tahu dirinya telah berbohong. Dadanya sesak dan hatinya seakan teriris.

Terdengar langkah kaki mendekat, dan sepasang tangan kokoh memeluknya dengan erat dari belakang, menusukkan ujung hidungnya yang runcing ke pipi Amanda dengan lembut. Amanda menghapus airmatanya, lalu menoleh. Pria berjas hitam yang berdiri didepannya itu begitu tampan, dengan matanya yang berbinar karena bahagia.
"Can you believe this? Our big day, Baby." senyum lebarnya menyeringai menghiasi wajahnya yang begitu atletis. "Oh, you look so gorgeous, Baby." Lalu mengecup kening Amanda lembut.
"You too, Partick. You look great as always, Sayang" ujar Amanda melingkarkan kedua lengan dipinggangnya.
"So are you ready for this?" Ujar pria itu.
"Yes, I can't wait any longer!" Jawab Amanda. Lalu Patrick menggandeng tangan Amanda, menemaninya melangkah keluar ruangan menuju ayah Amanda yang telah menunggunya.
"By the way, I saw Sam in the corridor. Dia bilang dia harus pergi. Sayang sekali dia nggak bisa lihat upacara pernikahan kita" Tanya Patrick.
"Yeah, too bad." ujar Amanda datar. Berbohong lagi.
Patrick berpaling menatap wajah Amanda, menurunkan kain hiasan kepala menutupi wajahnya. "Aku tunggu kamu di altar." Ujarnya, lalu meninggal Amanda bersama ayahnya untuk berjalan menuju altar saat musik dimulai.
Amanda mengucapkan 'I do' lalu pendeta mengesahkan mereka menjadi suami istri, lalu mereka diperkenankan berciuman.
Amanda dapat melihatnya, Sam, memandangnya dari kejauhan, lalu berjalan menjauh meninggalkan area pesta pernikahannya dengan mobil dengan kap terbuka, membiarkan angin sore menghembus melewati rambutnya yang dikuncir ekor kuda. Amanda ingat betapa dia menyukai aroma lavender yang selalu tercium dari rambut Sam saat Sam berada disekitarnya, dia yakin dia akan sangat merindukannya, Samantha, teman wanita yang sebenarnya begitu dicintainya itu.

----

Ketika semua orang merasa pantas untuk menilai orang lain. Dimana ada hal2 yang dianggap begitu tabu.
Bukankah kita semua patut berbahagia, dengan apapun kenyataannya, bagaimanapun perasaan yang kita miliki, siapapun orang yang kita pilih, demi mendapatkan kebahagiaan versi kita masing2?
Bagaimana dengan kamu??

Selasa, 08 Januari 2013

Cerpen : Perempuan.

Karissa menatap sekilas gadis berambut panjang yang sejak dari tadi tertunduk di meja restaurant tersebut yang sepertinya ia kenal, namun terlalu enggan untuk menyapa. Karissa tetap duduk, meniup kopinya yang sebenarnya tidak lagi panas, sambil sesekali mencuri pandang pada lelaki yang duduk disebelah gadis tersebut. Lelaki beralis tebal itu terus bicara dengan intonasi yang kini membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Bahu si gadis berguncang2 diatas tangannya yang terlipat, kepalanya sedikit terangkat memandang lelaki itu dengan wajah tak berbahagia. Alis lelaki itu bertaut, membuat wajahnya yang garang semakin terlihat kejam, dia mulai membentak dan sesekali memaki, membuat gadis itu makin berurai air mata. Tangan besar lelaki itu kini terlihat mencengkram lengan si gadis begitu erat, meninggalkan bekas yang berwarna keputihan.
Karissa berusaha memalingkan wajah dari pemandangan di meja seberangnya tersebut, berusaha fokus dengan kopinya.
Pasangan di depan mejanya terdengar berargumen, si gadis masih menangis, suara lelaki itu semakin terdengar semakin keras. Karissa mulai sedikit terganggu, namun staff restaurant yang sebenarnya juga memperhatikan sedari tadi terlalu sungkan untuk menginterupsi, entah enggan, entah tak ingin ikut campur, atau memang mereka punya begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan pada restaurant yang tidak terlalu ramai malam ini.
Ketika bunyi tamparan disusul erangan yang berasal dari si gadis di meja seberang, Karissa benar benar memperlihatkan kepada mereka bahwa ia memang mengamati keduanya, untuk membuat lelaki berbadan tegap itu gusar. Lelaki itu mulai berdiri, berusaha mengajak gadis yang masih duduk dan menunduk itu pergi dengan menarik lengannya sambil berusaha terlihat mengontrol emosinya dan memaksakan kehendaknya secara diam diam dengan menggenggam kuat lengan gadis itu sekali lagi, meskipun jelas sekali gadis itu enggan. Lelaki itu akhirnya menghempaskan lengan gadis itu ke meja, membuat cangkir dan gelas2 kristal berisi air putih itu berguncang membasahi taplak meja putih bercorak keemasan sebelum akhirnya mengambil jaketnya yang dia letakkan diatas meja lalu pergi meninggalkan restaurant, tanpa sudi membantu gadis yang kini terjatuh di lantai itu untuk duduk kembali di bangkunya.
Ada segenap rasa enggan untuk menghampiri, namun ketika akhirnya Karissa melangkah mendekati, sang gadis sudah duduk kembali di kursinya dengan cepat berharap kejadian tersebut tidak terlalu menarik perhatian.
Karissa menawarkan bantuan yang disambut dengan gelengan kepala dan senyum sopan yang dipaksakan dari si gadis yang kini mulai menghapus jejak jejak airmata diwajah ayunya.
"Nina, kamu nggak apa apa?" Karissa memberanikan diri bertanya. Gadis itu memandang sedikit terkejut.
"Nggak apa apa. Makasih" ujarnya si gadis bernama Nina menoleh pada Karissa. Tangis Nina pecah.
Karissa menarik kursi, duduk condong dengan ragu ragu di sebelahnya, "Mau pulang? Aku antar yuk? Kan satu arah"
"Nggak usah, makasih. Aku nggak apa2, beneran." ujarnya sambil menunduk menahan tangis, menurunkan tangannya yang sedari tadi diatas meja.
Karissa melihatnya. Noda noda bulat coklat kemerahan yang begitu ia kenal didalam lengan gadis itu yang berusaha disembunyikannya dengan canggung. Ia mendapati dirinya bingung, haruskah ia pergi, atau menunggu. Haruskah ia bertanya, atau menutup mata seperti yang lalu lalu.
Karissa mengenal Nina di kampusnya. Tidak berteman baik, jarang saling menyapa, namun sering kali berada dalam satu kelas di mata kuliah yang kebetulan diambil bersama, dan serangkaian kesempatan berpapasan tanpa bicara di area kampusnya. Gadis yang cantik itu, yang berambut kecoklatan sebahu, yang begitu ramping dan berjari lentik, dengan bola mata bulat yang penuh dengan senyuman mengembang kerap kali terlihat disekitar kampus selalu terlihat berbahagia.
"I'm okay, serious. Thank you." Ujar Nina lagi, isyarat agar Karissa segera pergi.
"Itu tadi siapa, pacar kamu?" Karissa memberanikan bertanya. Nina mengangguk. "Berantem?"
"Cuma ada salah paham sedikit kok."
"Lalu tangan kamu kenapa? Dia yang buat?" Karissa akhirnya memberanikan diri bertanya. Nina tetap diam, lalu menyembunyikan noda itu dengan rambut panjangnya. "Salah paham juga?" Karissa bertanya lagi.
Nina menggeleng.
"Jangan tanya tanya itu." Nina menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa pacarnya tidak kembali dan mencuri dengar pertanyaan barusan sebelum kembali pada posisinya yang semula, melipat tangannya dan meletakan kepala diatasnya dengan bahu berguncang guncang, berusaha menangis dalam diam.
"Yuk, kamu mau pulang aja? Aku anter ya? Nggak repot kok. Kita kan suka ketemu di kampus, kamu masih inget aku kan? Karissa. Kita kan suka sekelas" Karissa merayu, membuat Nina terlihat nyaman dengan kehadirannya, berusaha membuat Nina merasa akrab dengan pertemuan pertemuan tak disengaja mereka di kampus sejak beberapa tahun silam.
"Enggak. Enggak, Karissa. Makasih. Udah, nanti aku bisa pulang sendiri. Jangan libatin kamu sama masalah aku. Makasih ya" Gadis itu tersenyum sekilas menahan tangis, menyeka air matanya sambil menoleh sekali lagi ke belakang.
"Okay kalo begitu" Karissa mengeluarkan pulpen, "Ini just in case kamu butuh." Karissa menuliskan sesuatu diatas kertas, dan menyodorkannya pada Nina. "You know, if you need someone to talk, atau butuh cerita atau apa, mungkin aku bisa bantu. Atau mungkin mau hang out kapan kapan." Karissa berusaha mengakrabkan diri, untuk membuat Nina merasa aman, sekali lagi. Nina masih diam menunduk. "Kamu tahu kan bahwa kamu cantik?" Nina diam. "Kamu bisa dapetin pengganti dia begitu aja. Kamu bisa dapat yang lebih baik. Kamu nggak patut ngalamin semua ini, Nina. Sama sekali. Percaya sama aku. You have to go from this situation."
"You wanna be here all night or what???" Tiba tiba terdengar suara lelaki itu lagi, kali ini begitu keras, Nina segera bangkit lalu pergi tanpa menoleh ke Karissa, berharap lelaki itu tidak mendengar apa yang baru saja Karissa katakan, berusaha tidak kembali menyulut emosi pacarnya kembali. Dia tidak ingin membuat dirinya terlibat masalah lebih jauh lagi. Lalu mereka pergi meninggalkan restaurant, berjalan berdampingan, berusaha acuh satu sama lain, meninggalkan kertas berisi nomer telepon yang tadi diberikan Karissa diatas meja.

Betapa Karissa membenci dirinya sendiri. Dia tahu sekali hal macam ini, dan mengutuk dirinya sendiri untuk tidak dapat berbuat apapun. Nina mengalami kekerasan, atau hubungan yang tak sehat, dia yakin itu. Karissa heran, kenapa semua perempuan selalu bertahan dalam hubungan seperti ini? Berusaha tegar menghadapi penyiksaan macam ini dan tidak ingin pergi dari situasi tersebut? Kenapa mereka begitu mencintai pria pria yang memukuli mereka, yang memaki dan merendahkan mereka, menyundut lengan mereka dengan rokok, lalu tetap bersamanya? Bahkan bersikap lebih manis untuk menyenangkan penyiksa mereka. Berpura pura bahwa itu adalah hal yang biasa, hal wajar yang terjadi dalam hubungan percintaan, hal umum yang dialami semua perempuan. Karissa tidak habis pikir. Dia mengutuk dirinya sekali lagi, atas ketidakbisaannya menolong Nina melalui hal ini, lalu memutuskan pulang.

Sampai di rumah Karissa tidak dapat menemukan kuncinya, maka ia menekan bel karena yakin ibunya belum tidur.

Satu kali
Dua kali
Tiga kali

Pintu belum dibukakan. Maka ia menekan bel keempat kalinya karena yakin ada orang didalam dari lampu ruang tengah yang menyala dan suara tv dari dalam.
Terdengar teriakan dan bunyi sesuatu yang pecah. Mungkin cermin, mungkin gelas, atau piring. Karissa panik, menumpahkan isi tasnya sekarang juga, berusaha menemukan kunci, membuka pintu lalu segera berlari ke dalam.
Teriakan itu terdengar lebih keras, ia berlari lebih cepat, membuka pintu kamar, menemukan ibunya yang dalam pakaian yang telah tersobek dibeberapa bagian, meringkuk dipojokan, melindungi diri dari sapuan ikat pinggang berkepala besi ayahnya.
"Jangan ganggu Mama! Jangan!" Karissa menerkam ayahnya yang berperawakan tinggi besar tersebut. Aroma alkohol tercium, ayahnya jelas mabuk. Lagi. "Jangan sentuh Mama! Pergi! Kemarin nggak ada Papa dua bulan kita hidup kita tenang! Pergi!"
"Kamu anak kecil tau apa sih? Anak sialan!" Ujar ayahnya dengan rokok dimulutnya, kini berpaling pada Karissa, menghujaninya dengan pukulan2 yang tadi diberikan untuk ibunya.
Karissa meringkuk dalam posisi yang sama seperti yang ibunya tadi lakukan, bertahan dari pukulan demi pukulan. Dia berhasil mengalihkan perhatian, ibunya kini pergi mencari bantuan, entah kemana, entah pada siapa, entah berapa lama.
Hujaman ikat pinggang menyapu tubuhnya bertubi2. "Anak setan!" Ayahnya tak puas, kini mulai menjambak, memukul, dan menghempas Karissa ke dinding dan ke lantai, seperti yang sejak kecil dia rasakan. Lalu menyapukan ikat pinggang itu lagi keras2. Tidak seperti dulu yang selalu memohon pada ayahnya untuk berhenti sambil menangis, kini dia lebih kuat, merasa lebih tegar, dan lebih terbiasa menghadapi keadaan seperti ini. Entah masalah sepele apa yang menyulut emosi ayahnya kali ini, entah dari kopi yang terlalu panas, atau makanan yang tersaji terlalu lama, atau hanya karena noda cangkir pada korannya. Apapun alasannya, namun dalam hatinya dia berdoa, agar semua ini cepat berhenti, berlalu, berharap emosi ayahnya segera surut. Rasa asin mulai terasa dilidahnya. Entah dari bibir yang sobek, atau darah dari hidung atau dari dahinya yang mengucur, ataupun kesemuanya. Dia tidak tahu. Yang penting dia bisa menyelamatkan wanita yang begitu dicintainya itu dari tindakan ayahnya ini. Lagi.

----

Saya buat untuk kalian, Karissa2 lain dan Nina2 lain yang berada di luar sana, korban2 yang telah mengalami hal serupa dari cerita yang saya buat diatas.

Kehadiran pasangan seharusnya membuat aman, menjaga, mencintai, mengasihi dengan sepenuh hati.
Kita perempuan seharusnya dilindungi, dibuat nyaman dengan lelaki yang kita telah pilih untuk menemani sisa hidup kita selamanya.
Kita seharusnya diperlakukan dengan baik, dengan lembut, dengan penuh cinta, dengan penuh hormat.
Permasalahan apapun bisa diselesaikan tanpa harus menggunakan kekerasan.

Dan untuk kamu,sahabat saya yang tidak saya sebutkan namanya.
Semoga kejadian kejadian macam ini tidak terulang lagi dalam hidup kamu.
Atau semoga kamu segera sadar bahwa dia tidak patut dipertahankan atas dasar perlakuannya, atas penyiksaannya terhadap kamu, baik fisik ataupun mental.
Semoga kamu segera pergi dari situasi ini.
Semoga kamu mengerti bahwa kamu patut mendapatkan yang lebih baik.
Semoga ibu mertua kamu tidak lagi menutup matanya, atas perlakuan terang2an anaknya terhadap kamu.
Semoga ibu mertua kamu sadar, bahwa apapun alasannya, pemukulan terhadap perempuan dari pasangannya tidak pernah dibenarkan, atas dasar apapun.
Jikapun kata2 dan nasihatku tidak kamu pedulikan hanya karena kamu merasa kuat mengalami ini dan merasa mampu bertahan menangani ini setiap harinya, ingatlah, bahwa anakmu yang selalu menjadi saksi justru adalah "korban" yang sesungguhnya.

Stop Kekerasan Dalam Rumah Tangga